PEMAHAMAN DASAR SPIRITUAL

Pengertian Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam

Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam secara umum adalah suatu jenis ilmu gaib untuk tujuan memiliki kemampuan melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib dan bernuansa gaib, perbuatan-perbuatan yang tidak sewajarnya, yang melebihi kemampuan manusia biasa, sering juga disebut sebagai Ilmu Supranatural / Metafisika, karena menyangkut hal-hal yang tidak tampak mata manusia biasa dan diluar kewajaran.

Ilmu gaib dan ilmu khodam ini sering salah kaprah disamakan orang dengan Ilmu Kebatinan, karena banyak berisi mantra-mantra dan amalan-amalan gaib atau dalam rangka ngelmu-nya ada laku prihatin, puasa dan tirakat seperti halnya laku orang yang menjalani ilmu kebatinan, walaupun ilmu-ilmu itu sebenarnya berbeda.
Ilmu gaib adalah suatu jenis keilmuan yang bertujuan untuk bisa menciptakan perbuatan-perbuatan gaib / ajaib yang umumnya berasal dari kekuatan sugesti pada amalan-amalan gaib, doa dan mantra.

Dalam praktek penggunaannya "bentuk" ilmu-ilmu dalam ilmu gaib bisa sama dengan ilmu tenaga dalam, kebatinan dan spiritual, tetapi dalam pengamalan ilmu gaib ini tidak diutamakan optimalisasi potensi diri karena sumber kegaibannya bisa berasal dari mana saja, bisa dari diri sendiri, bisa juga dari kegaiban yang lain (khodam). Di dalamnya juga ada mantra-mantra / amalan-amalan gaib, doa-doa, puasa, tirakat, dsb, seperti halnya dalam ilmu kebatinan, sehingga banyak orang yang salah menganggap ilmu gaib sama dengan ilmu kebatinan, walaupun sebenarnya berbeda.

Tujuan dalam mempelajari ilmu gaib penekanannya adalah langsung pada hasil yang ingin dicapai, sesuai tujuannya orang berilmu, yaitu keberhasilannya dalam menguasai dan mempraktekkan ilmu-ilmu gaib, bukan untuk mengoptimalkan potensi diri atau mengolah kebatinan, juga dalam pembelajarannya tidak diperlukan filosofi-filosofi kebatinan untuk membentuk kerohanian / kebatinan pelakunya.

Dengan kata lain ilmu gaib ini adalah sejenis ilmu terapan, yaitu ilmu-ilmu yang tujuannya adalah hanya untuk langsung bisa mempraktekkan kegaiban, biasanya dilakukan dengan membacakan amalan dan mantra.

Ilmu Khodam adalah ilmu gaib yang kekuatan / keampuhan ilmunya meminjam jasa kegaiban sesosok mahluk halus sebagai khodam ilmunya (bangsa jin, kuntilanak, gondoruwo, dsb). Biasanya dilakukan dengan mengucapkan doa mantra-mantra atau amalan tertentu atau dengan memerintah langsung mahluk halusnya. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa ilmu khodam adalah ilmu gaib berkhodam, yaitu jenis ilmu gaib yang menggunakan khodam ilmu / prewangan.

Jadi yang membedakan ilmu khodam dengan ilmu-ilmu lain adalah pada penggunaan jasa gaib lain sebagai sumber kekuatan ilmunya. Ada kalanya untuk mendapatkan ilmu atau khodam tertentu seseorang harus menjalankan laku tirakat dan berpuasa (ngelmu gaib) yang mirip dengan yang dilakukan orang dalam olah kebatinan, sehingga kedua jenis ilmu itu seringkali dianggap orang sama, walaupun sebenarnya berbeda.
Khodam adalah istilah untuk sesosok mahluk halus yang mau dimintai bantuannya oleh manusia untuk melakukan suatu perbuatan tertentu (perewangan), atau sesosok mahluk halus yang digunakan dalam pengamalan ilmu gaib.

Khodam adalah juga istilah untuk sesosok mahluk halus yang sudah menjadikan sebuah benda menjadi bertuah.

Mahluk halus khodam bisa dari jenis apa saja, bisa bangsa jin, dedemit kuntilanak, gondoruwo, sukma / arah manusia, bisa berasal dari khodam mustika, batu akik, jimat dan pusaka, khodam ilmu / pendamping, bisa juga mahluk halus yang dipanggil datang / dihadirkan (ilmu hadiran) untuk diperintah melakukan suatu perbuatan gaib tertentu.

Ada banyak sekali mahluk halus di bumi ini. Yang disebut khodam adalah mahluk halus yang mau dimintai bantuan gaibnya (diperintah) oleh seseorang untuk melakukan suatu perbuatan gaib tertentu. Jika mahluk halus itu tidak mau dimintai bantuan gaibnya (tidak mau diperintah), maka mahluk halus itu tidak disebut khodam, tetapi hanya mahluk halus biasa saja yang sama dengan mahluk halus lainnya yang umum.

Dan sebuah benda disebut berkhodam jika mahluk halus yang berdiam di dalamnya mau dimintai bantuannya (diperintah) untuk melakukan suatu perbuatan gaib tertentu atau bendanya memberikan tuah kegaiban tertentu bagi pemiliknya / pemakainya. Jika mahluk gaib di dalamnya tidak mau diperintah, atau bendanya tidak memberikan tuah gaib tertentu bagi pemiliknya, maka benda itu tidak disebut benda berkhodam, tetapi hanya benda biasa saja yang berpenghuni gaib, tidak bertuah, dan tidak bisa menjadi jimat / pusaka bagi seseorang, karena tidak memberikan tuah apa-apa.

Mahluk gaib khodam bisa berdiam di dalam sebuah benda gaib, bisa juga mendampingi manusia menjadi khodam ilmu / pendamping (atau masuk dan bersemayam di dalam badannya / kepalanya), atau didatangkan (dihadirkan) untuk diperintah melaksanakan tujuan dari ilmu gaibnya, seperti untuk penjagaan / perlindungan / keselamatan gaib, kekuatan / kekebalan / kesaktian, pelet, santet, guna-guna, penundukkan, pengasihan, penglaris dagangan, memperlancar rejeki / kekayaan, pesugihan, dsb. Jenis-jenis ilmu inilah yang biasa disebut sebagai ilmu khodam, yaitu ilmu gaib yang menggunakan jasa kegaiban lain sebagai sumber kekuatan ilmunya.

Khodam Ilmu adalah sesosok mahluk halus, bisa dari jenis apa saja, yang tujuan keberadaannya khusus untuk melaksanakan ilmu gaib seseorang. Sosok mahluk halus itu bisa mendampingi si manusia (menjadi khodam pendamping) atau dipanggil / dihadirkan (ilmu hadiran) untuk diperintah melaksanakan perbuatan gaib tertentu.

Khodam pendamping adalah khodam dari suatu ilmu gaib atau sesosok mahluk halus lain yang datang kepada seseorang dan menyertainya sehari-hari (mendampingi dan seringkali juga membantunya sehari-hari, sehingga keinginan-keinginan atau doa-doanya dan perkataannya menjadi terwujud).

Di kalangan ilmu gaib / khodam mereka dengan sengaja mendatangkan khodam ilmunya dengan cara mewirid amalan gaibnya selama berhari-hari, ada juga yang disertai dengan puasa khusus.

Tetapi selain yang merupakan khodam ilmu dan khodam dari leluhur, ada khodam yang datang sendiri kepada seseorang dengan tidak sengaja didatangkan, tidak diundang dan tidak disadari keberadaannya. Seringkali khodam ini datang kepada seseorang yang tekun beribadah dan rajin berdoa / wirid.

Biasanya seseorang yang tekun bersemadi, meditasi, zikir dan wirid, dan yang sengaja mewirid amalan gaib tubuhnya akan memancarkan energi tertentu dan pikirannya akan memancarkan gelombang tertentu. Pancaran energi dan gelombang pikiran inilah yang seringkali mengundang datangnya mahluk halus kepada seseorang, walaupun tidak semua kedatangannya itu sengaja diundang.

Bila khodam ini berasal dari mahluk gaib golongan putih, biasanya tidak akan mendatangkan kesulitan selama sesajinya terpenuhi. Sebaiknya jangan menerima khodam bangsa jin dari golongan hitam, karena akan cenderung menyesatkan dan akan menyulitkan dalam proses kematian.

Bagi anda pengguna ilmu khodam (dan yang memiliki khodam pendamping), sebaiknya berhati-hati dalam penggunaan ilmunya, juga berhati-hati dalam memilih jenis khodam ilmunya. Penggunaan jasa mahluk halus biasanya harus disertai dengan sesaji tertentu (kembang, telor ayam, minyak arab, bakaran menyan / dupa, dsb) sebagai upah si mahluk halus karena sudah bekerja membantu anda, mewujudkan keinginan anda. Dalam mendapatkan ilmu khodam tersebut, sebaiknya ditanyakan kepada si pemberi ilmu, atau bertanya langsung kepada khodamnya itu sendiri, kalau bisa, tentang semua persyaratan yang diminta oleh si khodam. Bila sesaji yang dimintanya tidak dipenuhi, atau anda lupa memberikannya, biasanya si khodam akan "menegur" anda dengan caranya sendiri. Dan sebaiknya jangan menerima khodam bangsa jin dari golongan hitam, karena akan menyesatkan anda atau akan menyulitkan anda dalam proses kematian.

Sebaiknya kita berhati-hati, jangan terdorong untuk memiliki banyak jimat dan khodam, karena tidak semuanya pasti bermanfaat untuk kita, malah bisa memberatkan jalan hidup kita. Miliki seperlunya saja, yang tuah dan pengaruhnya baik, jangan berlebihan. Sesajinya harus selalu rutin dipenuhi.
Juga hati-hati dengan amalan dan ilmu-ilmu gaib, karena tidak semuanya bersifat baik, terutama amalan dan ilmu-ilmu yang bersifat agresif, jangan sampai ternyata memberikan efek yang malah memberatkan jalan hidup kita.

Beberapa tulisan tentang khodam, khodam ilmu atau khodam pendamping, sifat-sifatnya dan pengaruhnya terhadap manusia dapat dibaca di :

- Penggolongan Mahluk Halus

- Pengaruh Gaib thd Manusia

- Roh Manusia (Lanjutan 1)

- KHODAM

Secara umum pada masa sekarang aliran ilmu gaib dan ilmu khodam dicirikan sebagai jenis keilmuan gaib yang mengandalkan diri pada kekuatan sugesti atau wiridan doa, amalan gaib dan mantra-mantra, dicirikan sebagai jenis keilmuan gaib yang penuh dengan amalan dan mantra, sangat mengandalkan amalan dan mantra, semua perbuatan ilmunya dilakukan dengan amalan dan mantra. Sumber kekuatan ilmunya adalah pada kekuatannya mengsugesti amalan gaib / mantra-mantra dan khodamnya, bukan kekuatan kebatinan. Dengan demikian proses laku, tatacara dan hasil yang dicapai dalam keilmuan gaib ini akan berbeda dengan ilmu kebatinan, walaupun orang sering menganggapnya sama.

Selain yang aslinya adalah kegaiban dari sugesti ilmu tenaga dalam, kebatinan dan spiritual, secara umum ilmu gaib yang dipraktekkan oleh banyak orang adalah ilmu gaib berkhodam. Keampuhan ilmunya menggunakan bantuan kekuatan lain, yaitu kekuatan / kegaiban khodamnya.

Bagi mereka yang mempelajari atau diberi ilmu-ilmu gaib, sudah umum bila mereka berkaitan dengan mahluk halus sebagai khodamnya, ada penyatuan secara langsung maupun tidak langsung, antara dirinya dengan gaibnya, disadari ataupun tidak.

Dengan ilmu berkhodam, secara langsung ataupun tidak langsung, disadari ataupun tidak, orang itu menyatu dengan roh halus khodamnya itu dan kekuatan ilmunya menjadi sebanding dengan penyatuannya dengan roh itu.

Tingkat kemanjuran ilmunya tergantung pada tingkat penyatuan seseorang dengan khodamnya dan tingkat kemampuannya mengsugesti khodamnya.

Kekuatan ilmunya tergantung pada kekuatan sugesti seseorang, kekuatan mantra (kadar perintah kerja di dalam mantranya) dan kekuatan gaib khodamnya itu sendiri.
Khodam adalah roh dari ilmu gaib berkhodam.

Jenis ilmu gaib berkhodam hanya akan efektif bekerja jika seseorang sudah menerima khodamnya dengan cara transfer ilmu (transfer khodam / diijazahkan).

Mantra dan amalan gaib yang kegaibannya berasal dari perbuatan sesosok mahluk halus / khodam tidak akan bekerja jika seseorang yang tidak memiliki khodam atau belum menerima khodamnya belajar sendiri mengamalkan atau mewirid mantra amalannya. Sekalipun ilmunya bekerja biasanya kegaibannya tidak besar.

Karena itu untuk orang-orang yang sudah berguru ilmu gaib, atau yang sudah mewiridkan sendiri suatu amalan gaib, tetapi ilmunya itu ternyata tidak bekerja, tidak terasa keampuhannya, kemungkinan besar penyebabnya adalah karena dirinya tidak memiliki khodam, atau belum menerima khodamnya. Karena itu sebaiknya orang-orang itu menanyakannya kepada guru yang menurunkan ilmunya itu, apakah dirinya belum menerima khodamnya ataukah ada tatacara ilmunya yang belum tepat dijalaninya.

Adanya khodam pada seseorang seringkali menjadikan perbuatan-perbuatan orang itu mengandung kegaiban tersendiri. Khodam itulah yang melakukannya untuknya. Seseorang yang berkhodam, entah khodamnya itu berasal dari lakunya berilmu, atau khodam itu datang sendiri kepadanya menjadi khodam ilmu /pendampingnya, disadari atau tidak olehnya, seringkali menjadikan perbuatan-perbuatannya mengandung kegaiban tersendiri yang itu berbeda dibandingkan orang lain yang tidak berkhodam. Jika itu terjadi pada orang-orang yang umum / awam atau pada orang-orang berilmu, atau pada orang-orang yang menjadi sesepuh masyarakat, atau pada orang-orang yang "dituakan", orang itu disebut "berisi" dan kata-katanya manjur selalu terjadi (idu geni). Jika itu terjadi pada orang-orang yang menjadi tokoh / pemuka agama seringkali orang itu disebut berkaromah.

Karakteristik Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam

Ilmu Kanuragan dan Tenaga Dalam, Ilmu Kebatinan, Ilmu Spiritual, Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam adalah sesuatu yang berdiri sendiri-sendiri dan memiliki kekuatannya sendiri-sendiri, tetapi bisa juga dijadikan satu rangkaian kesatuan ilmu jika saling dikombinasikan atau dirangkapkan.

Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam sifatnya luas, bukan saja yang murni sebagai ilmu gaib / khodam, tetapi bisa juga bersifat kebatinan dan spiritual, atau tenaga dalam, melingkupi semua aspek dalam kehidupan manusia. Pada praktek yang umum, ilmu tenaga dalam, ilmu kebatinan dan ilmu spiritual seringkali tidak dapat dipisahkan dari ilmu gaib dan ilmu khodam, justru banyak yang melengkapinya dengan ilmu gaib dan ilmu khodam karena akan menghasilkan kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya yang sendiri-sendiri.

Ada juga perguruan tenaga dalam yang mengolah pernafasan yang dikombinasikan dengan amalan-amalan ilmu gaib kesaktian. Biasanya dalam prakteknya hasilnya lebih kuat dibandingkan pelatihan tenaga dalam yang tidak menggunakan amalan gaib, tetapi seringkali kekuatan asli tenaga dalam orang yang bersangkutan tidak seberapa, yang lebih kuat adalah sugesti amalan gaibnya. Bahkan sebenarnya dengan hanya mengandalkan sugesti ilmu gaib / khodam saja mereka sudah bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang sama dengan perbuatan tenaga dalam, hanya perlu sugesti ilmu gaib / khodam saja, tidak perlu melatih tenaga dalam lagi. Karena itu bisa dikatakan sejatinya ilmu mereka itu adalah ilmu gaib dan ilmu khodam, bukan tenaga dalam. Bungkusnya saja tenaga dalam, kegaiban yang bekerja adalah dari sugesti ilmu gaibnya.

Di dunia manusia, kekuatan dan kesaktian adalah pengertian yang berbeda. Kekuatan menggambarkan tenaga / kekuatan tubuh manusia dan kesaktian menggambarkan kombinasi kemampuan manusia yang terkait dengan kekuatan tubuhnya, kemampuan olah gerak, tenaga dalam, kekuatan kebatinan / spiritual dan ilmu gaib dan khodam, senjata dan pusaka.

Di dunia mahluk halus, kekuatan dan kesaktian adalah juga pengertian yang berbeda. Kekuatan mahluk halus menggambarkan kekuatan energi gaibnya dan kesaktian mahluk halus menggambarkan apa saja kegaiban yang mampu dilakukannya, yaitu selain adalah perbuatan-perbuatan gaib dengan kekuatan gaibnya, juga kemampuannya atas perbuatan-perbuatan seperti sihir. Kekuatan gaib dan kemampuan sihir mahluk halus itulah yang dimanfaatkan manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan sihir dengan ilmu gaibnya (dengan bantuan khodamnya).

Di keilmuan kebatinan dan spiritual, ilmu gaib dan ilmu khodam adalah bagian dari ilmu kebatinan dan spiritual, yaitu bagian dari ilmu kebatinan yang menekankan pada kekuatan sugesti (disebut ilmu sugesti, yaitu praktek ilmu yang menekankan pada kemampuan bersugesti pada kekuatan batin dan pikiran, dan kekuatan mengsugesti amalan gaib dan mantra dan kemampuan mengsugesti khodam). Dalam mengamalkan ilmu-ilmu tersebut juga digunakan kekuatan batin untuk mengsugesti amalan-amalan gaib dan mantra dan untuk mengsugesti kegaiban khodamnya. Tetapi biasanya tujuan orang-orang yang khusus menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam adalah murni untuk keberhasilan mempraktekkan keilmuan tersebut, bukan dalam rangka olah kebatinan atau spiritual, walaupun ada ilmunya yang berlatar-belakangkan kebatinan atau agama.

Tujuan utama orang-orang yang menekuni kebatinan adalah murni untuk laku kebatinan atau untuk kesaktian kanuragan, bukan untuk tujuan keilmuan gaib, tetapi kegaiban sukma mereka sebagai efek dari penghayatan kebatinan itu juga bisa digunakan untuk tujuan keilmuan gaib. Di antara mereka juga ada yang berkecimpung di bidang keilmuan kesaktian. Mereka juga menekuni olah kanuragan, tenaga dalam, dsb, dan setelah kegaiban sukma mereka disatukan dalam keilmuan kesaktian mereka, menyebabkan kekuatan kesaktian mereka menjadi tinggi. Kekuatan keilmuan gaib pada orang-orang tersebut terutama adalah berasal dari kegaiban sukma mereka, ditambah olah kanuragan, tenaga dalam, dan kekuatan sugesti ilmu gaib dan khodam.

Sedangkan tujuan orang-orang yang hanya menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam saja biasanya adalah murni untuk keberhasilan menguasai / mempraktekkan keilmuannya tersebut, sesuai tujuannya berilmu, bukan dalam rangka laku kebatinan dan spiritual. Dengan demikian ilmu gaib dan ilmu khodam ini bersifat ilmu terapan yang menekankan pada keberhasilan prakteknya. Sekalipun dalam pembelajarannya berlatar belakang kerohanian atau pun agama, tetapi kekuatan keilmuan gaib mereka terutama hanya dari kekuatan sugesti mereka pada amalan gaib dan mantra saja dan kemampuan mereka mengsugesti khodamnya.

Dengan kata lain, ilmu gaib ini adalah sejenis ilmu terapan, yaitu ilmu yang tujuan mempelajarinya adalah untuk langsung bisa mempraktekkan kegaiban, untuk langsung bisa melakukan perbuatan-perbuatan gaib, dengan membacakan mantra-mantra atau amalan gaib.

Tujuan dalam mempelajari ilmu gaib penekanannya adalah langsung pada hasil yang ingin dicapai, yaitu untuk keberhasilan dalam menguasai dan mempraktekkan ilmu-ilmu gaib tertentu, bukan mengoptimalkan potensi diri atau mengolah kebatinan, juga dalam pembelajarannya tidak diperlukan filosofi-filosofi kebatinan / spiritual untuk membentuk kerohanian / kebatinan pelakunya, sehingga ilmu gaib dan ilmu khodam sama sekali tidak dapat disamakan dengan ilmu kebatinan.

Jenis keilmuan ini tidak dijalani dengan laku kebatinan seperti yang dilakukan oleh orang-orang kebatinan. Kebanyakan jenis keilmuan ini dilakukan orang sebagai jalan pintas untuk bisa cepat memiliki ilmu gaib dan untuk langsung bisa mempraktekkannya, dengan hanya menghapalkan dan mewirid saja mantra / amalan gaibnya.

Karena tujuannya adalah bukan untuk mengolah potensi kebatinan dan laku yang dijalani juga tidak persis sama dengan laku kebatinan, maka jenis ilmu gaib dan ilmu khodam ini tidaklah sama dengan ilmu kebatinan. Kepekaan rasa dan batin, peka sasmita / wangsit, kekuatan kebatinan / spiritual, dsb, yang bisa mengantarkan seseorang menjadi mumpuni dalam hal kebatinan dan kegaiban, linuwih dan waskita, tidak akan dicapai dengan menjalani keilmuan ini.

Dalam keilmuan gaib dan khodam ada juga mantra-mantra seperti dalam ilmu kebatinan yang terkait dengan pendayagunaan roh sedulur papat sebagai khodam bagi seseorang. Tetapi ilmu itu hanya akan bekerja jika sedulur papat seseorang sudah cukup kuat, sehingga bisa menjadi khodam seseorang. Tetapi pada masa sekarang kondisi kuatnya sedulur papat itu, sekalipun seseorang mengikuti perkumpulan / aliran kebatinan, kelihatannya akan sulit dicapai, karena pembelajarannya dan orientasi pesertanya sudah banyak berubah, tidak lagi berorientasi pada laku memperkuat kebatinan, tetapi mengarah pada keinginan untuk menguasai ilmu gaib dan ilmu khodam saja yang di Jawa mewujud dalam bentuk aliran ilmu gaib kejawen atau aliran Islam kejawen. Dan unsur gaib yang bekerja bukanlah sedulur papatnya, tetapi adalah khodam ilmu yang sudah dimiliki atau yang dibekalkan kepada masing-masing pesertanya.

Pada jaman dulu orang mengikuti perkumpulan kebatinan seperti yang sekarang dikenal seperti Sapto Darmo, Pangestu, dsb, bukanlah semata-mata untuk olah keilmuan kebatinan, tetapi merupakan jalan laku orang berketuhanan, sehingga para peserta yang menekuninya bisa memiliki kebatinan yang kuat. Sedangkan pada masa sekarang orang sudah menganut agama sendiri-sendiri, sehingga kepengikutannya dalam perkumpulan-perkumpulan kejawen seperti itu tidak lagi ditekuni dengan semestinya, bukan lagi menjadi sarana lakunya berketuhanan, tetapi mengarah pada keinginan atas keilmuan gaib saja. Akibatnya para pesertanya tidak lagi dapat memiliki kekuatan kebatinan yang tinggi seperti yang seharusnya.

Karena itu lakunya kemudian bukan lagi untuk kebatinan, tetapi mengarah pada keilmuan gaib saja, dan kekuatan gaibnya, walaupun juga ada menggunakan mantra-mantra sedulur papat, tetapi yang bekerja bukanlah sedulur papatnya, tetapi adalah khodam ilmu yang sudah dimiliki atau yang dibekalkan kepada masing-masing pesertanya.

Kelebihan utama ilmu gaib dan ilmu khodam adalah pada usaha yang lebih mudah dalam mempelajarinya, yaitu dengan hanya menghapalkan dan mewirid mantra / amalan ilmu gaib saja. Dalam tempo yang relatif cepat orang akan sudah bisa mempraktekkan kemampuannya dalam keilmuan gaib, dengan hanya membacakan / mewirid amalan dan mantra ilmu gaib atau dengan menggunakan khodam ilmu saja. Orang-orang yang menjalani ilmu gaib dan ilmu khodam bisa juga peka rasa dan mengerti kegaiban, dan mempunyai kekuatan gaib, tetapi kebanyakan kadarnya rendah, hanya akan sama dengan tingkatan pemula dalam olah kebatinan.

Walaupun para praktisi ilmu gaib dan ilmu khodam seringkali menyebut ilmu mereka sebagai ilmu batin atau ilmu kebatinan, tetapi karena adanya perbedaan-perbedaan dasar di atas, maka dalam tulisan ini dilakukan pembedaan antara keilmuan gaib yang berdasarkan kebatinan / spiritual dengan yang murni bersifat ilmu gaib dan ilmu khodam. Sekalipun dilakukan pembedaan, jika dilihat dari kulitnya saja, perbedaan ilmu gaib dan ilmu khodam dengan ilmu kebatinan sangat tipis, karena semuanya berhubungan dengan kegaiban, dan di dalamnya juga ada mantra-mantra atau amalan-amalan gaib, puasa dan tirakat, sehingga pengertian dan istilah kebatinan, spiritual, ilmu gaib dan ilmu khodam seringkali dianggap sama, walaupun sifat dasar keilmuannya berbeda.

Tetapi ada satu hal pokok yang menyebabkan keilmuan kebatinan berbeda dengan yang murni berupa ilmu gaib dan ilmu khodam, yaitu :

Pada orang-orang yang menekuni kebatinan, sugesti kebatinan mereka lebih ditujukan "ke dalam" (ke dalam batin sendiri), berupa penghayatan kebatinan yang juga menyentuh relung batin yang paling dalam, jiwanya, sukmanya, sehingga proses laku mereka "membangunkan" inner power, yaitu kekuatan dari batin, jiwa, sukma, yang setelah dijalani dengan laku kebatinan menjadikan kekuatan sukma dan kebatinan mereka tinggi. Dan kekuatan kegaiban sukma mereka jelas berbeda dibandingkan orang-orang lain yang tidak menekuni kebatinan.

Sedangkan orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam, sugesti kebatinan mereka lebih banyak ditujukan "ke luar", yaitu difokuskan untuk mengsugesti amalan-amalan dan mantra ilmu gaib dan mengsugesti kegaiban khodam mereka, sehingga tidak membangun apa yang ada "di dalam", yaitu kekuatan dari batin, jiwa, sukma. Walaupun proses laku mereka itu juga menambah kekuatan / kegaiban sukma mereka, tetapi hanya sedikit saja, tidak banyak.

Karena adanya perbedaan pokok di atas itulah, maka sekalipun para praktisi ilmu gaib dan ilmu khodam seringkali menyebut keilmuan mereka sebagai ilmu batin / kebatinan, tetapi fakta-fakta di bawah ini akan membuktikan apakah keilmuan mereka benar merupakan ilmu batin / kebatinan.

Jika tidak mempunyai amalan ilmunya, atau tidak membacakan amalan ilmunya, atau lupa dengan amalan ilmunya / mantranya, orang-orang yang menekuni kebatinan tetap dapat melakukan keilmuan gaib mereka dengan mengandalkan kemampuan mengsugesti kegaiban kebatinan / sukma mereka (kekuatan niat dan kehendak). Sedangkan para praktisi ilmu gaib, kekuatan ilmunya ada pada kekuatannya mengsugesti amalan ilmu dan mantra, sehingga tanpa amalan ilmu atau lupa dengan amalan ilmunya seringkali mereka tidak dapat berbuat apa-apa (apa yang harus disugestikan kalau tidak punya atau lupa pada bunyi mantranya). Namun praktisi ilmu gaib berkhodam (dan yang mempunyai khodam ilmu / pendamping), tanpa amalan ilmunya atau lupa mantranya, kemampuan gaibnya tergantung pada khodamnya itu apakah khodamnya itu akan tetap berinisiatif bertindak walaupun tidak dibacakan amalan ilmunya. Jika khodamnya itu tidak berbuat apa-apa, maka mereka juga tidak mampu berbuat apa-apa.

Ilmu-ilmu dalam ilmu kebatinan dapat sama dengan ilmu-ilmu dalam ilmu gaib dan ilmu khodam. Bedanya adalah pada sumber kekuatan ilmunya. Kegaiban yang dihasilkan dalam ilmu kebatinan berasal dari kegaiban sukmanya, ditambah dengan amalan-amalan, doa dan mantra sebagai sugesti yang menghasilkan kegaiban ilmu-ilmu kebatinan. Seandainya pun mereka memiliki khodam pendamping atau khodam ilmu, keberadaannya hanya sebagai penambah kekuatan ilmunya, kegaiban yang utama tetap berasal dari kekuatan kebatinannya.

Sedangkan kegaiban dari ilmu gaib dan ilmu khodam berasal dari kekuatan sugesti pada amalan, doa dan mantra, atau kegaiban khodamnya saja, bukan dari kekuatan kebatinannya dan tidak didasarkan pada olah batin / sukma. Jenis laku prihatin, puasa dan tirakatnya pun berbeda antara yang dilakukan oleh orang-orang yang menekuni olah kebatinan dengan yang dilakukan oleh orang-orang yang menekuni olah ilmu gaib dan ilmu khodam (baca : Laku Prihatin dan Tirakat).

Masing-masing amalan gaib dan mantra mempunyai sifat dan latar belakang sendiri-sendiri, apakah bersifat kebatinan ataukah hanya bersifat kekuatan mantra saja. Untuk lebih menjamin keampuhannya maka dalam mengamalkan sebuah amalan gaib kita harus bisa menentukan apakah harus murni mengandalkan kekuatan mengsugesti mantra / amalan gaib, ataukah harus dengan mengsugesti batin kita sendiri (menggerakkan kekuatan kebatinan), ataukah amalan itu harus langsung ditujukan kepada khodam ilmu / pendamping.

Dalam mengamalkan suatu amalan gaib, minimal ada 2 macam pendekatan sugesti dalam melakukannya :

Yang pertama adalah sugesti ilmu gaib dan ilmu khodam.
Dengan model pendekatan ini sugesti ditekankan pada bentuk dan bunyi amalan gaibnya, sehingga kalau amalan gaibnya salah, atau membacanya salah bunyinya, seringkali kegaibannya tidak bekerja, atau sekalipun ilmunya bekerja, biasanya tidak besar kegaibannya, apalagi kalau lupa mantranya.

Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam mendasarkan kekuatan ilmunya pada kemampuan mengsugesti amalan gaib dan mantra, sehingga membacakan amalan gaibnya tidak boleh salah, dan tidak boleh lupa pada bunyi mantranya (apa yang harus diwirid kalau lupa mantranya ? ).

Karena fokus ilmunya hanya pada kemampuan mengsugesti mantra / amalan gaib seringkali kegaiban yang terjadi tidak diketahui darimana asalnya, apakah dari batinnya sendiri, dari khodam ilmu / pendamping, ataukah dari mahluk halus lain yang datang. Yang dipentingkan hanyalah keampuhannya. Selama ilmunya itu bekerja, maka ilmunya itu dan khodamnya akan dikatakan ampuh, begitu juga sebaliknya, jika ilmunya tidak bekerja, maka ilmunya itu dan khodamnya akan dikatakan tidak ampuh.

Yang kedua adalah sugesti kebatinan.
Dengan model pendekatan ini sugestinya bersifat "ke dalam", yaitu ke dalam batin sendiri, kepada sukmanya sendiri, atau langsung ditujukan kepada sosok-sosok gaib tertentu (khodam) yang menjadi tujuan amalan gaibnya. Dengan cara itu akan terjadi kontak rasa dan kontak batin antara kebatinannya dengan sosok-sosok halus tersebut, sehingga walaupun bunyi amalan gaibnya salah atau salah membaca amalannya, selama ia bisa bersugesti batin seperti itu, bisa kontak rasa dan batin, maka kegaibannya akan tetap bekerja, karena batinnya dan khodamnya mengerti maksud dan tujuan sugestinya.

Dengan sugesti kebatinan, walaupun lupa bunyi amalannya, orang tetap bisa menjalankan ilmunya dengan cara mengsugesti batinnya sendiri, atau cukup sambat saja kepada khodam ilmu / pendamping.

(Dengan sugesti kebatinan kita akan tahu sendiri kegaibannya berasal darimana, apakah berasal dari sukma kita sendiri, ataukah dari khodam ilmu / pendamping, khodam keris / jimat, atau dari mahluk halus lain).
Amalan keilmuan yang bersifat kebatinan sebaiknya kita lakukan dengan sugesti kebatinan untuk mengsugesti sukma kita (roh pancer dan sedulur papat) dan adanya kembangan-kembangan dalam amalan gaibnya akan memperkaya sugesti kebatinan kita.

Amalan keilmuan yang berbahasa arab dilakukan dengan sugesti ilmu gaib / khodam, tidak boleh salah membacanya, dan tidak boleh lupa bacaan amalannya.

Amalan keilmuan kejawen yang bekerjanya menggunakan khodam, dalam membacakan amalannya sebaiknya ditujukan langsung kepada khodamnya itu atau langsung kepada khodam benda gaibnya.

Ilmu-ilmu dalam ilmu gaib dan ilmu khodam dapat sama dengan ilmu-ilmu dalam ilmu kebatinan. Bedanya adalah pada sumber kekuatan ilmunya. Kegaiban yang dihasilkan dalam ilmu kebatinan berasal dari kekuatan sukmanya, ditambah dengan amalan-amalan, doa dan mantra sebagai sugesti yang menghasilkan kegaiban ilmu-ilmu kebatinan. Seandainya pun memiliki khodam pendamping atau khodam ilmu, keberadaan mereka hanya sebagai penambah kekuatan ilmunya, kegaiban yang utama tetap berasal dari kekuatan kebatinannya.

Salah satu kelebihan dalam olah kebatinan adalah adanya tahapan olah rasa dan sugesti, sehingga seseorang yang sudah menguasai olah rasa dan sugesti, maka dia akan dapat dengan mudah mengsugesti batinnya, dan membentuk / menyelaraskan sukmanya sesuai penghayatan pada ilmunya, walaupun tidak hapal dengan bunyi mantranya. Dalam ilmu gaib dan ilmu khodam juga ada olah rasa dan sugesti, terutama ditujukan dalam rasa ketika mengsugesti suatu amalan ilmu gaib.
Pada orang-orang kebatinan, untuk memperkuat keilmuannya, orang tersebut harus memperdalam penghayatan dan kekuatan kebatinannya dan meningkatkan kepekaan rasa dan kemampuan sugestinya pada bentuk-bentuk keilmuan. Kekuatan sukmanya akan sejalan dengan kemampuannya mengsugesti sukmanya untuk menyatu dalam penghayatan kebatinannya. Untuk maksud itu para penganut kebatinan akan banyak melakukan perenungan-perenungan, laku tirakat dan puasa, menyepi, semadi, bahkan tapa brata.

Pada orang-orang kebatinan, secara kebatinan, seseorang tidak membutuhkan banyak amalan ilmu, tidak perlu mengkoleksi banyak amalan ilmu, karena yang paling utama adalah kemampuannya mengsugesti sukmanya dan pemahaman / penghayatan pada suatu bentuk keilmuan, tidak harus hapal bunyi mantranya, tetapi harus tahu isi / sifat, bentuk dan tujuan keilmuannya. Mereka juga akan dengan mudah menciptakan ilmu-ilmu baru sesuai pemahaman dari ilham yang didapatnya. Dan bila menemukan / menerima suatu amalan ilmu baru, mereka akan dapat dengan seketika mengamalkannya sesuai tingkat kemampuannya mengsugesti sukmanya, walaupun tidak menerima transfer energi atau khodam.

Sedangkan pada orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam, kegaiban keilmuannya berasal dari kekuatannya mengsugesti amalan-amalan gaib, doa dan mantra, atau kekuatannya mengsugesti kegaiban khodam ilmunya saja, bukan dari kekuatan kebatinannya, dan tidak didasarkan pada olah batin / sukma. Pada saat mengamalkan ilmunya, orang-orang itu harus hapal dengan bacaan mantra / amalan ilmunya.

Karena bersifat ilmu gaib dan ilmu khodam, mantra-mantra hanya akan bekerja dengan baik pada orang-orang yang mempunyai kekuatan sugesti pada amalan / mantranya, atau yang sudah menerima khodam ilmunya atau transfer energi (diijazahkan). Bagi yang ingin belajar sendiri, belajar jarak jauh, yang masih kurang kuat sugesti pada amalannya, dan belum menerima transfer energi atau belum menerima khodam ilmunya, dengan usahanya sendiri membaca / mewirid suatu amalan ilmu biasanya tidak akan banyak berguna. Sekalipun ada kegaiban setelah membacanya, biasanya tidak besar kekuatannya. Karena itu untuk keberhasilannya penganut ilmu gaib dan ilmu khodam akan banyak bergantung pada guru yang memberi ilmu, dan untuk menambah keilmuannya mereka akan berusaha belajar kepada banyak guru dan mengkoleksi banyak amalan ilmu.

Dalam mengamalkan suatu amalan ilmu, misalnya amalan ilmu untuk kekuatan / kesaktian, pada seseorang yang menganut ilmu kebatinan, setelah ilmu tersebut diturunkan kepadanya, dalam penggunaannya orang tersebut masih harus menghayati isi dan arti amalan tersebut untuk menyelaraskan / mengsugesti batinnya supaya sukmanya dapat melakukan apa yang tersugesti dalam amalan ilmu tersebut. Kekuatan ilmunya tergantung pada kekuatan sukmanya dan penghayatan / sugesti dirinya dalam mengamalkan ilmu tersebut.

Karena bersifat kebatinan, maka dalam mengamalkannya seseorang harus menghayati isi dan arti amalan ilmu tersebut untuk menyelaraskan / mengsugesti batinnya supaya sukmanya dapat melakukan sesuai yang tersugesti dalam amalan ilmu tersebut. Kekuatan ilmunya tergantung pada kekuatan sukmanya dan penghayatan / sugesti dirinya dalam mengamalkan ilmu tersebut. Jadi yang utama harus dimiliki adalah kekuatan sukma dan kemampuan sugesti untuk menggerakkan kekuatan sukmanya menjalankan suatu ilmu. Ilmu itu akan bekerja sesuai penghayatan / sugesti seseorang pada jenis ilmunya, walaupun tidak hapal dengan bacaan mantra / amalan ilmunya. Dan sugesti ilmu itu perlu dilatih secara berkala supaya ketajaman / keselarasan sukmanya dengan ilmunya itu tidak melemah.

Amalan tersebut di atas (amalan ilmu yang sama), bila dilakukan oleh orang yang menganut ilmu gaib dan ilmu khodam, setelah ilmu tersebut diturunkan kepadanya, maka orang tersebut hanya perlu keyakinan / sugesti bahwa kapan saja ilmu itu diamalkan, ilmu itu akan bekerja. Orang tersebut tidak mengandalkan kekuatan sukmanya, karena yang bekerja adalah kekuatan sugesti pada amalan ilmu dan khodamnya, bukan sukmanya, dan tidak perlu tahu arti dan isi kalimat-kalimat dalam amalannya, hanya perlu menghapalkannya saja dan mengsugesti dirinya bahwa ilmu itu akan bekerja kapan saja amalannya diamalkan. Kekuatan ilmunya tergantung pada kekuatan (konsentrasi) sugestinya dan penyatuan dengan khodamnya. Dalam hal ini penerapan ilmu gaib dan ilmu khodam memiliki kelebihan kepraktisan dalam penggunaannya dibandingkan ilmu kebatinan, tetapi pada saat mempraktekkannya, orang tersebut harus hapal dengan bacaan mantra / amalan ilmunya, tidak boleh lupa.

Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam pada masa sekarang lebih mudah mendapatkannya dan seringkali tidak perlu didapatkan dengan cara berpuasa, laku prihatin, tirakat, dsb. Bahkan banyak yang menekuninya sebagai jalan pintas, karena prosesnya lebih mudah, tidak perlu puasa, tirakatan, dsb, dan seringkali hanya dilakukan melalui proses pengisian ilmu / transfer khodam dan energi, dan instan !, hanya perlu baca amalannya saja sudah langsung bisa dipraktekkan. Bahkan untuk mempraktekan ilmu tenaga dalam tidak lagi perlu berlama-lama melakukan olah nafas. Dengan transfer ilmu gaib dan khodam seringkali cukup hanya dengan diminumkan air putih yang sudah diberi amalan tertentu seseorang sudah langsung bisa mempraktekkan ilmu tersebut (pembangkitan seketika). Instan ! Langsung bisa dipraktekkan, bisa mementalkan orang, bisa memukul jarak jauh, tubuh kebal senjata tajam, bisa mematahkan besi, dsb.

Contoh lain, misalnya ilmu pengasihan dan penglaris dagangan.

Pada orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam, mereka akan membacakan / mewirid amalan gaib untuk ilmu pengasihan dan penglaris dagangan itu. Kekuatan ilmunya bergantung pada kemampuan mereka mengsugesti amalan ilmu gaibnya atau mengsugesti kegaiban khodamnya untuk melaksanakan ilmu pengasihan dan penglaris dagangan (ditambah sesaji tertentu untuk khodamnya). Mereka harus hapal dengan bunyi mantranya (apa yang harus diwirid kalau tidak hapal bunyi mantranya ? ).

Pada orang-orang yang menekuni kebatinan, mereka tidak perlu hafal dengan bunyi mantranya (kalau tahu dan hafal mantranya akan lebih baik). Mereka hanya harus mengerti maksud ilmunya dan tahu cara kerjanya. Dengan demikian yang mereka lakukan adalah mengsugesti sukmanya untuk menciptakan suasana gaib yang teduh dan menyenangkan bagi banyak orang yang menyebabkan orang-orang suka kepadanya, suka datang ke tempat usahanya, suka mengobrol dan berbelanja. Suasana gaib itu disugestikan memancar dalam radius 5 meter, 10 meter, 20 meter, dsb (seperti penggunaan tenaga dalam murni).

Contoh lain : pengasihan atau kewibawaan.

Baik dengan cara ilmu gaib / khodam ataupun dengan cara kebatinan semuanya sifatnya sama, yaitu sebagai ilmu sugesti, bisa dilakukan secara kebatinan, bisa juga dengan amalan gaib.

Jika dilakukan dengan cara kebatinan, maka sugesti dan amalannya ditujukan ke dalam diri sendiri, ke dalam batin / sukma kita sendiri, dipilih yang isi sugestinya kita mengerti, untuk mengsugesti batin kita menjalankan isi sugesti yang kita inginkan.
Secara kebatinan sugestinya adalah untuk membentuk batin / sukma kita supaya berkarakter sama dengan yang kita sugestikan yang karakter itu akan memancar keluar dan bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita atau oleh orang yang kita tuju.
Kalau sudah menyimpan energi (energi potensial di tubuh), atau sukmanya sudah berkekuatan gaib, maka sugestinya dilakukan selain untuk membentuk karakter kita sendiri, juga untuk membentuk pancaran energi sukma kita yang sifatnya sama dengan isi sugesti kita, dan pancaran energinya bisa kita atur sendiri seberapa kekuatan pancarannya, seberapa kekuatan pengaruhnya, dan seberapa jauh pancarannya. Bisa juga kita atur sendiri kapan kita memancarkan pengasihan, kapan kita memancarkan kewibawaan / penundukkan, karena itu berhubungan juga dengan siapa kita berhadapan.

Dengan kata lain, secara kebatinan bentuk sugesti dan amalan itu berfungsi untuk membentuk karakter kita sendiri supaya kita menjadi berkarakter sama dengan isi sugestinya, karena kita sendiri yang harus bersifat pengasihan / kewibawaan yang sama dengan sugesti yang kita inginkan, atau untuk membentuk pancaran energi sukma kita supaya sifat pancarannya sama dengan sugesti yang kita inginkan.
Tapi kalau kita memancarkan energi, maka semakin lama semakin berkurang energi kita, sehingga energinya harus disi ulang.

Jika dilakukan dengan cara ilmu gaib / khodam, yang sugesti dan amalannya ditujukan langsung kepada khodamnya atau langsung kepada jimat kita, tidak harus dipilih amalan yang isi sugestinya kita mengerti, karena yang menjalankannya adalah khodam kita, bukan kita sendiri.
Secara ilmu gaib / khodam, sugestinya adalah untuk memerintahkan khodam kita supaya ia memunculkan penampakan karakter kita yang sama dengan yang kita sugestikan, atau supaya ia memancarkan hawa energi yang sifatnya sama dengan yang kita sugestikan.
Dan untuk mengatur kapan kita pengasihan dan kapan kewibawaan / penundukkan, harus dibaca dulu amalannya. Jadi kita harus punya koleksi ilmu / amalannya.

Amalan pengasihan dan kewibawaan bisa diambilkan dari sumber mana saja asal fungsinya sesuai.
Tapi untuk anda pribadi sebaiknya dipilih yang berimbang.
Pengasihan yang terlalu kuat bisa membuat anda kehilangan kewibawaan.
Begitu juga sebaliknya, kewibawaan yang terlalu kuat bisa membuat anda tampak tidak punya rasa asih.
Kalau anda punya bawahan (atau murid-murid jika anda menjadi seorang guru / dosen), selain pengasihan dan kewibawaan, sebaiknya dibentuk juga karakter kesepuhan yang bersifat mengayomi, sehingga anda akan dihormati juga sebagai orang yang dituakan.

Tujuan dari dilakukannya pembedaan antara ilmu-ilmu kebatinan dengan yang asli ilmu gaib dan ilmu khodam adalah supaya kita dapat dengan benar membedakan pengertiannya, mengetahui sisi spiritualnya, mengetahui cara kerjanya dan cara-cara untuk mengembangkannya untuk meningkatkan kualitas keilmuannya sesuai jenis keilmuan masing-masing yang digeluti.

Kelebihan ilmu kebatinan dan spiritual terhadap yang murni sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam terutama adalah pada kekuatan gaib batin dan sukma mereka yang biasanya jauh melebihi kekuatan ilmu gaib dan ilmu khodam. Kegaiban batin dan sukma mereka juga menyebabkan mereka tidak perlu bergantung pada adanya khodam ilmu, karena kegaiban batin dan sukma mereka sendiri sudah menjadi "khodam" bagi mereka. Kelebihan lainnya ilmu kebatinan dan spiritual adalah pada kemampuan olah rasa dan sugesti untuk menggerakkan kekuatan gaib batin dan sukma untuk melakukan banyak kegaiban seperti dalam ilmu-ilmu gaib dan khodam. Dan kombinasi dari kekuatan / kegaiban batin dan sukma mereka dan kemampuan olah rasa dan sugesti dapat mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita, mengerti kegaiban hidup dan kegaiban alam.

Sedangkan kelemahan ilmu kebatinan dan spiritual terhadap yang murni sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam terutama adalah pada usaha yang lebih berat dalam mempelajari dan menekuninya, yang menyebabkan orang-orang menjadi tidak tertarik untuk menjalaninya. Kelemahan lainnya adalah kurangnya variasi dalam keilmuan gaib mereka dibandingkan yang dipelajari dalam ilmu gaib dan ilmu khodam, karena tujuan utama belajar mereka biasanya bukan untuk mempraktekkan ilmu gaib / khodam, tetapi untuk penghayatan kebatinan dan spiritual atau untuk kesaktian kanuragan.

 

Kelebihan dari yang murni sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam terhadap ilmu kebatinan dan spiritual terutama adalah pada usaha yang lebih ringan dalam mempelajari dan menekuninya, yang menyebabkan orang-orang menjadi lebih tertarik untuk menjalaninya. Kelebihan lainnya adalah pada banyaknya variasi dalam keilmuan gaib mereka (banyaknya variasi doa amalan dan mantra) dan hasilnya bisa langsung dipraktekkan dan dipertunjukkan, karena tujuan mereka berilmu memang adalah untuk keberhasilan mereka mempraktekkan keilmuan gaib / khodam.

Sedangkan kelemahan utama ilmu gaib dan ilmu khodam terhadap ilmu kebatinan dan spiritual terutama adalah pada kekuatan gaib ilmunya yang jauh lebih rendah (pada ilmu yang sejenis). Biasanya orang mempelajari ilmu gaib dan ilmu khodam tidak dilandasi dengan kekuatan kebatinan, tidak dilandasi dengan olah batin, hanya menghapalkan dan mewirid saja amalan dan mantranya. Walaupun variasi ilmunya banyak, tetapi karena kekuatan gaibnya lebih rendah, biasanya kekuatan keilmuan mereka dapat dengan mudah dilunturkan keampuhannya (dan seringkali tidak dapat digunakan untuk menyerang orang-orang pelaku kebatinan dan spiritual).

Masing-masing jenis keilmuan mempunyai kelebihan dan kelemahan sendiri-sendiri. Segala macam bentuk keilmuan gaib / batin akan sangat bergantung pada sumber kekuatan ilmunya dan perbendaharaan jenis ilmu. Untuk dapat menguasai suatu keilmuan secara sempurna dengan daya kekuatan yang tinggi orang harus mengenal sumber kekuatan ilmunya untuk ia meningkatkan kekuatan ilmunya dan melengkapi kekurangannya.

Kemampuan untuk mengsugesti batin / sukma, kemampuan untuk bersugesti pada amalan gaib, dan kemampuan mengsugesti kegaiban khodamnya adalah hal-hal pokok yang harus dikuasai dalam keilmuan batin / gaib. Tetapi untuk meningkatkan kekuatan ilmunya, sebaiknya jangan hanya berfokus pada praktek sugesti amalan gaib saja, sumber kekuatan ilmunya harus juga diketahui dan harus ditingkatkan kualitasnya supaya kekuatan ilmunya menjadi tinggi.

Orang-orang yang menekuni keilmuan gaib yang kegaiban ilmunya berasal dari kekuatan batin / sukma (keilmuan kebatinan dan spiritual), untuk meningkatkan kekuatan ilmunya orang itu harus meningkatkan penghayatan pada ilmunya dan kekuatan batin / sukmanya, supaya ketika disugestikan untuk keilmuan tertentu kekuatan ilmunya itu tinggi, dan ia perlu menambah perbendaharaannya atas jenis-jenis keilmuan gaib (menambah pengetahuan pada jenis-jenis ilmu dan amalan ilmu).

Orang-orang yang menekuni keilmuan gaib yang kegaiban ilmunya berasal dari kekuatan roh pancer dan sedulur papat, harus meningkatkan kekuatan gaib dari batin / sukmanya dan meningkatkan penghayatan penyatuannya dengan kekuatan roh sedulur papatnya, supaya ketika disugestikan untuk keilmuan tertentu, kekuatan ilmunya tinggi.

Orang-orang yang menekuni keilmuan gaib yang kegaiban ilmunya murni berasal dari kekuatan amalan gaib dan mantra, harus meningkatkan kekuatan sugestinya (kekuatan fokus / konsentrasi), meningkatkan kekuatan kebatinannya, atau mencari mantra / amalan ilmu gaib yang lebih tinggi kadar kekuatannya.

Orang-orang yang menekuni keilmuan gaib yang kegaiban ilmunya berasal dari kekuatan khodamnya, mereka harus meningkatkan kekuatan khodamnya (mencari sosok gaib lain yang lebih tinggi kekuatan gaibnya) dan meningkatkan kemampuannya mengsugesti khodam ilmunya itu, atau mencari mantra / amalan gaib yang lebih tinggi kadar kekuatannya, supaya ketika disugestikan untuk keilmuan gaib tertentu, kekuatan ilmunya tinggi.

Seringkali kemampuan seseorang dalam ilmu gaib dan ilmu khodam menjadi suatu kebanggaan, menjadikan seseorang merasa hebat dan sakti, merasa mampu melakukan apa saja dengan ilmunya itu, dan seringkali keilmuannya itu juga dipamerkan / dipertunjukkan kepada orang lain, terutama kepada orang-orang awam.

Tetapi jarang ada manusia yang memiliki khodam ilmu atau khodam pendamping yang berkesaktian tinggi, karena kebanyakan orang belum sampai ilmunya untuk mengenal mahluk halus yang berkesaktian tinggi, apalagi para pelakunya juga belum tentu bisa melihat gaib. Yang bisa melihat gaib pun tidak mampu mengukur kekuatan mahluk halus, tidak mampu memilih-milih mahluk halus untuk dijadikan khodamnya, apalagi semakin tinggi kesaktian sesosok mahluk halus biasanya juga semakin sulit untuk dilihat dan semakin sulit dideteksi keberadaannya. Karena itulah contoh gaib seperti Ibu Kanjeng Ratu Kidul sangat diagung-agungkan orang sebagai tokoh sakti dari alam gaib, padahal di alam gaib banyak sekali mahluk halus yang kesaktiannya berlipat-lipat di atas beliau yang Ibu Kanjeng Ratu Kidul sendiri pun harus berhati-hati dan menghindarinya.

Kebanyakan orang yang memiliki ilmu khodam tidak mempermasalahkan tentang kesaktian khodamnya itu, karena keberadaan khodamnya itu hanya dikhususkan untuk pelaksanaan ilmu gaibnya saja. Yang dianggap penting adalah khodam itu bekerja sesuai tujuan keberadaannya (pelaksanaan ilmu), tidak masalah khodamnya itu sakti atau tidak. Khodamnya itu akan dianggap ampuh jika ilmunya bekerja, sebaliknya suatu ilmu dan khodamnya pasti tidak akan dianggap ampuh jika ilmunya itu tidak bekerja.

Karena itu pada prakteknya, disadari ataupun tidak, para pelaku ilmu gaib dan ilmu khodam akan tidak memperhatikan tingkat kesaktian khodamnya, tetapi akan terdorong untuk menonjolkan / menciptakan ilmu yang tinggi-tinggi, amalan dan mantra yang kadar sugesti / perintahnya tinggi, untuk menciptakan efek akibat yang tinggi (parah) pada lawannya, atau untuk mengalahkan keilmuan orang lain (ilmu dilawan dengan ilmu). Bahkan pada sebagian kalangan hasrat mereka meninggikan keilmuannya itu menjadikan perilaku keilmuan mereka itu menjadi sama dengan praktek ilmu sihir, tenung dan perdukunan.

Dalam praktek adu ilmu, contohnya adalah praktek yang biasa dilakukan dalam penanganan pengobatan santet / teluh dan pembersihan gaib. Biasanya suatu ilmu gaib dilawan dengan ilmu gaib lain yang setanding atau yang lebih tinggi. Ilmu pelet dilawan dengan ilmu penangkal pelet yang lebih tinggi. Ilmu teluh dilawan dengan ilmu penangkal teluh yang lebih tinggi. Amalan dilawan dengan amalan. Mantra dilawan dengan mantra. Ajian dilawan dengan ajian. Metode ini mengharuskan seseorang untuk mengkoleksi banyak ilmu yang tinggi-tinggi dan berguru kepada banyak guru.

Bagaimana kalau tidak punya ilmu penangkal yang lebih tinggi ?
Kemana lagi harus berguru ?
Sampai kapan harus terus berguru ?
Bagaimana kalau kemudian ilmu orang yang dilawannya itu berbalik menyerang dirinya ?

Akan lebih baik jika metode tersebut diganti. Ilmu tidak dilawan dengan ilmu. Ajian tidak dilawan dengan ajian. Mantra tidak dilawan dengan mantra. Metodenya diganti menjadi melawannya dengan kekuatan gaib atau khodam yang lebih tinggi. Dengan cara ini kita membersihkan ilmu lawan dengan kekuatan gaib / khodam yang lebih tinggi. Tidak peduli seberapa tinggi ilmu lawan, atau sekalipun ilmunya berlapis-lapis, bisa disapu bersih dengan kekuatan gaib / khodam yang lebih tinggi.

Dengan cara ini kita tidak membutuhkan banyak amalan, mantra dan ajian atau berguru kepada banyak guru. Yang kita butuhkan hanyalah satu amalan ilmu dan satu kekuatan gaib / khodam yang kuat untuk menyapu bersih ilmu lawan. Dan kekuatan gaib / khodam ini bisa melindungi kita, sehingga tidak diserang balik oleh ilmu lawan, dan khodam itu bisa kita gunakan juga untuk banyak keperluan. Hanya diperlukan tambahan usaha untuk mendapatkan kekuatan gaib / khodam yang kuat.

Khodam yang sakti diperlukan terutama untuk dimiliki oleh orang-orang yang sering mengadu ilmu, adu kesaktian gaib, atau yang sering mempertunjukkan keilmuannya, yang sering pamer kesaktian, terutama di hadapan orang-orang awam, bisa ini bisa itu, bisa menundukkan ini bisa menundukkan itu, dsb. Khodam yang sakti diperlukan supaya ilmunya tidak mudah luntur ketika berhadapan atau ketika sedang berada di lingkungan gaib atau di lingkungan orang-orang berkhodam. Khodam yang sakti juga diperlukan untuk ilmu atau amalan gaib yang berfungsi untuk penjagaan gaib atau untuk pengobatan dan untuk mengusir roh-roh halus yang mengganggu (pembersihan gaib), karena khodamnya itu harus berhadapan dengan sosok-sosok halus lain.

Perlu diperhatikan, ada orang-orang tertentu yang bukan hanya memiliki ilmu berkhodam, tapi juga menguasai ilmu perkhodaman. Bagi mereka mudah saja melunturkan atau menghapuskan keilmuan seseorang dengan mengirimkan khodam yang lebih kuat atau memerintahkan khodam seseorang untuk pergi menghilang, atau membalik ilmu seseorang menjadi menyerang dirinya sendiri. Jadi dalam kasus ini bukan lagi adu ilmu dan khodam, tapi adalah adu ilmu memainkan khodam. Tapi untungnya, mereka biasanya memiliki kearifan yang tinggi, tidak mudah terpancing untuk pamer ilmu atau mengganggu / menghilangkan ilmu orang lain.

Jadi bagi yang hanya bisa main ilmu, atau khodamnya kurang kuat, maka ketika ada orang lain yang bukan bermaksud adu ilmu, tapi menyerang khodamnya, atau mempermainkan khodamnya, maka ilmunya yang tinggi akan kalah sehingga ilmunya tidak lagi mempunyai kekuatan gaib (apalagi bila orang itu hanya bisa memainkan ilmu saja, tapi tidak bisa memainkan khodamnya, malah ilmunya bisa berbalik menyerang dirinya sendiri).

Misalnya saja ada orang yang memiliki ilmu gaib / khodam untuk kekebalan, maka ketika kegaiban / khodam- nya itu diserang dan kalah, maka kekuatan ilmu kebalnya akan hilang. Jadi bukan ilmu kebalnya yang diserang dengan ilmu pukulan yang lebih kuat, tetapi kegaiban ilmunya yang dihilangkan. Begitu juga seseorang yang mempunyai ilmu khodam kesaktian pukulan. Ketika khodamnya itu dikalahkan atau bisa diperintahkan untuk pergi, maka kekuatan kesaktian pukulan orang itu akan hilang, hanya akan menjadi pukulan biasa yang hanya mengandalkan kekuatan fisik saja. Begitu juga bila kekuatan tenaga dalam seseorang dihilangkan, maka orang itu akan kehilangan tenaga dalamnya, menjadi seperti orang yang belum pernah belajar ilmu tenaga dalam. Atau khodam seseorang untuk pengasihan dan kerejekian (yang biasanya kekuatannya lemah), jika bisa ditundukkan, maka khodam itu bisa diperintahkan untuk pergi, atau bisa juga dibalik fungsinya, yang semula untuk pengasihan dan kerejekian, dibalik menjadi menutup jalan kerejekian dan membuat orangnya dijauhi dan dibenci oleh orang lain.

Itulah juga sebabnya seringkali dalam pertunjukkan debus atau sulap, dsb, kerap kali pemimpinnya berkata kepada para penonton supaya tidak mengganggu, karena mereka tidak bermaksud pamer atau unjuk kesaktian, tapi hanya sekedar menyajikan atraksi hiburan. Walaupun mungkin mereka juga memiliki kemampuan untuk melawan gangguan gaib, tetapi mereka sengaja merendahkan hati supaya atraksi mereka tidak diganggu.

Orang-orang yang berilmu khodam, kebanyakan khodamnya kelasnya rendah, karena mereka tidak mengenal dan tidak mampu mendatangkan sosok gaib berkesaktian tinggi. Biasanya juga mereka tidak memperhatikan kekuatan khodamnya, tetapi pada amalan ilmunya saja dan hanya pada keberhasilannya mempraktekkan ilmunya. Selain itu juga jarang ada orang yang mampu mengukur kesaktian mahluk gaib. Tetapi jika mereka mampu mengukur kesaktian mahluk gaib dan mampu mengenal mahluk gaib berkesaktian tinggi, mungkin mereka juga dapat mendatangkannya sebagai khodamnya, seperti Begawan Abiyasa yang khodamnya adalah bangsa jin yang kesaktiannya setingkat buto (1000 kali lipat kesaktian Ibu Ratu Kidul).

Ilmu gaib dan ilmu khodam sebaiknya jangan disombongkan di hadapan seseorang yang menekuni kebatinan dan spiritual. Orang-orang yang menekuni kebatinan dan spiritual, terutama kebatinan yang bersifat kesejatian diri, akan mengandalkan kekuatan dari dirinya sendiri, bukan dari gaib lain, sehingga mereka akan menempa dirinya untuk bisa memiliki kekuatan dan kemampuan, menyelaraskan kebatinannya dengan penghayatan ke-maha-kuasa-an Tuhan, dan seringkali kekuatan keilmuan mereka menjadi jauh di atas kekuatan ilmu-ilmu gaib dan khodam kebanyakan orang yang menyelaraskan diri dengan roh-roh dan kegaiban duniawi. Selain diri mereka sendiri diliputi oleh suatu kegaiban yang tidak dapat ditembus oleh ilmu gaib, kegaiban mereka pun dapat menenggelamkan (menghapuskan) keampuhan ilmu gaib dan ilmu khodam (ilmu sihir dan guna-guna) dan berbagai macam bentuk serangan gaib.

Mereka yang tidak suka pamer ilmu biasanya tidak memiliki musuh, tidak memancing orang lain untuk bereaksi negatif, malahan mendatangkan rasa hormat orang lain yang datang untuk meminta pertolongan.

---------------

Kebatinan dan Ilmu Kebatinan

Di dalam halaman ini dituliskan pengertian kebatinan dan ilmu kebatinan.

Di dalam penulisan-penulisan bertema kebatinan dan spiritual Penulis ingin menekankan bahwa pengertian kebatinan dan spiritual bersifat luas, bukan hanya kebatinan dan spiritual kegaiban, ilmu kebatinan dan ilmu spiritual, ilmu gaib kejawen atau ilmu-ilmu duniawi lainnya, tetapi juga kebatinan dan spiritual keagamaan / ketuhanan yang dijalani oleh banyak orang, dan tergantung juga pada para pelaku yang bersangkutan apakah kemampuan yang terbangkitkan, jika ada, termasuk dari lakunya berkebatinan keagamaan / ketuhanan itu apakah akan digunakannya murni untuk urusan keagamaan / ketuhanan ataukah juga akan digunakannya untuk tujuan keilmuan dan kegaiban.

Kebatinan Bersifat Universal

Kebatinan dan spiritual tidak hanya terkait dengan keilmuan kebatinan / spiritual, atau keagamaan dan aliran kepercayaan, tetapi bersifat universal, berkaitan dengan segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batinnya yang paling dalam. Di dalam kebatinan masing-masing orang terkandung keyakinan dan kepercayaan pribadi, pandangan dan pendapat pribadi, prinsip dan sikap hidup pribadi. Kebatinan melandasi kehidupan manusia sehari-hari, menjadi bagian dari kepribadian seseorang yang tercermin dan melandasi perbuatan dan perilakunya sehari-hari.

Setiap manusia di dalam peradabannya masing-masing memiliki sikap kebatinan dan spiritual sendiri-sendiri, bukan hanya yang bersifat pribadi, tetapi juga sikap batin atas segala sesuatu yang dipercaya dan diyakini oleh sekelompok masyarakat. Kebatinan dan spiritual tidak hanya terkait dengan keilmuan kebatinan, kepercayaan tentang hal-hal gaib, mitos dan legenda, atau kepercayaan keagamaan dan kerohanian, tetapi lebih dari itu. Karena itu kebatinan dan spiritual jangan dipandang secara sempit dan dangkal dengan hanya menganggapnya sama dengan keilmuan kebatinan / spiritual, atau hanya menganggapnya sama dengan aliran kepercayaan.

Kebatinan dan spiritual termasuk juga mengenai penghayatan atas apa yang dirasakan oleh orang-orang yang sangat tekun dalam beribadah dan murni dalam agamanya, karena setiap agama pun mengajarkan juga tentang apa yang dirasakan hati dan batin, mengajarkan untuk selalu membersihkan hati dan batin, bagaimana harus berpikir dan bersikap, dsb, dan di dalam setiap firman dan sabda terkandung makna kebatinan dan spiritual yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Bahkan panggilan hati yang dirasakan orang untuk beribadah, itu juga batin. Dan dalam batin itu sendiri tersimpan sebuah kekuatan yang besar jika sengaja dilatih dan diolah. Kekuatan batin menjadi kekuatan hati dalam menjalani hidup dan memperkuat keimanan seseorang.
Sebagian besar penghayatan kebatinan dan aliran kebatinan yang ada (di seluruh dunia) adalah bersifat kerohanian dan keagamaan, berisi upaya penghayatan manusia terhadap Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dengan cara pemahaman mereka masing-masing. Tujuan tertinggi penghayatan kebatinan mereka adalah untuk mencapai kesatuan (manunggaling) dan keselarasan dengan Sang Pribadi Tertinggi (Tuhan). Oleh sebab itu para penganut kebatinan berusaha mencapai tujuan utamanya, menyatu dengan Tuhan, menyelaraskan jiwa manusia dengan Tuhan, melalui olah batin, laku rohani dan laku berprihatin, menjauhi (tidak mengutamakan) kenikmatan hidup keduniawian, dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang dan menyelaraskan cara hidup mereka dengan cara hidup yang menjadi kehendak Tuhan.

Dan di dalam sikap hidup orang berkebatinan ada laku-laku dan ritual yang dilakukan orang. Contohnya adalah laku dan ritual di dalam orang beragama dan beribadah seperti laku memperingati / merayakan hari-hari besar agamanya, atau laku-laku kebatinan dalam kepercayaan dan tradisi, seperti laku dan ritual yang dilakukan masyarakat dalam budaya kejawen, atau laku-laku kebatinan pribadi dan kelompok sesuai kepercayaan kebatinan masing-masing orangnya, seperti puasa mutih, puasa senin-kamis, wiridan / zikir, pengajian, doa bersama, tahlilan, selametan, dsb. Tetapi tidak semuanya sikap dan laku orang dalam berkebatinan selalu tampak dalam laku-laku yang kelihatan mata seperti itu, karena kebatinan terutama berisi sikap hati dan pandangan-pandangan pribadi yang semuanya tidak selalu terwujud dalam laku dan ritual yang kelihatan mata. Lebih banyak yang bersifat pribadi daripada yang kelihatan mata.

Secara tradisi banyak sikap kebatinan dalam masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk cerita-cerita legenda, mitos dan tahayul, dogma dan pengkultusan. Tetapi secara positif sikap kebatinan masyarakat tentang budi pekerti, sopan santun, tata krama dan adat istiadat, menjadi tatalaku dan aturan yang harus dijalankan oleh semua anggota masyarakat dalam kehidupan yang berperadaban, yang itu secara tradisional sudah banyak diwujudkan menjadi hukum adat, dan dalam kehidupan yang lebih modern itu menjadi dasar dari sistem hukum modern. Sikap dan pandangan hidup yang sederhana, tradisional, sampai yang rasional dan modern, sikap hidup manusia di negara-negara yang terbelakang sampai di negara-negara maju dan modern, itu adalah sikap-sikap kebatinan yang mengisi kepribadian masing-masing manusianya dalam hidup mereka sehari-hari. Kebatinan bersifat universal.

Kesalahpahaman Tentang Kebatinan

Pada jaman dulu kebatinan dan laku kebatinan yang dilakukan orang ada 2 penggolongan besarnya, yaitu kebatinan dan spiritual kerohanian (penghayatan ketuhanan / kesepuhan) dan kebatinan untuk kanuragan (dan kesaktian gaib).

Pada jaman dulu kebatinan yang bersifat kerohanian (ketuhanan / kesepuhan) secara umum tujuannya adalah untuk kebatinan pribadi, merupakan jalan yang ditempuh orang untuk lakunya berketuhanan / berkeagamaan. Jika itu dilakukan di dalam suatu kelompok yang sehaluan, maka kelompok itu akan menjadi sebuah kelompok / paguyuban kebatinan yang pada masa sekarang kelompok itu sering disebut sebagai kelompok aliran kebatinan atau aliran kepercayaan, atau pada masa sekarang kelompok itu menjadi aliran dan perkumpulan di dalam agama (aliran dan sekte agama, ormas-ormas, dsb) yang masing-masing tokohnya mempunyai umat / pengikut.

Sedangkan laku kebatinan yang bersifat keilmuan tujuan utamanya adalah untuk mengolah potensi kebatinan manusia (kekuatan sukma) untuk dijadikan sumber kekuatan yang melandasi kesaktian kanuragan maupun kesaktian gaib.

Tetapi pada masa sekarang ini sudah jarang ada orang yang menekuni olah kebatinan, bahkan jarang sekali ada orang yang memiliki pemahaman yang benar tentang kebatinan, apalagi memiliki kemampuan kebatinan yang tinggi dan bisa mengajarkan / menularkan keilmuan kebatinannya itu kepada orang lain. Pemahaman tentang kebatinan saja belum tentu benar, apalagi memiliki kemampuan kebatinan yang tinggi. Lebih banyak orang yang hanya bisa membuat dogma dan pengkultusan saja tentang kebatinan dan elemen-elemen di dalamnya, tetapi tidak mampu menelisik benar-tidaknya, apalagi mengetahui sendiri kesejatiannya, karena tidak menguasai kebatinan dan spiritual yang tinggi yang menjadi syarat dasarnya.

Karena itu pada masa sekarang banyak sekali terjadi kesalah-pahaman dan pendegradasian dalam citra dan pemikiran orang tentang kebatinan. Sebagian berupa pencitraan pengkultusan yang bersifat melebih-lebihkan, sebagian lagi berupa pencitraan negatif (dan fitnah) yang menjelek-jelekkan kebatinan.

Ada pengkultusan orang tentang kebatinan yang mengatakan bahwa jika ingin belajar kebatinan orangnya harus sudah lebih dulu bisa membersihkan hati dan batinnya. Kebatinan dikatakan hanya cocok untuk orang-orang yang kepribadiannya sudah sepuh saja (dikatakan yang usianya sudah 50 tahun atau lebih). Padahal olah laku dan penghayatan kebatinan itu justru adalah sarana untuk orang membersihkan hati dan batinnya dan sarana untuk orang membentuk kepribadian yang sepuh, jangan menjadi orang yang tua, tetapi tidak sepuh.

Dalam pengkultusan itu kebatinan dan ilmu kebatinan dianggap sebagai sesuatu yang baik dan mulia. Bahkan ada yang mencitrakannya sebagai ilmunya orang-orang mulia jaman dulu, ilmunya para Wali, sufi, aulia, dsb. Padahal sama dengan jenis keilmuan yang lain, tidak semuanya kebatinan dan ilmu-ilmunya bersifat baik, tergantung siapa pelakunya dan apa saja isi lakunya dan tujuannya, karena ada juga penghayatan kebatinan dan ilmu kebatinan aliran hitam (aliran sesat) yang pada jaman dulu sudah memunculkan orang-orang sakti golongan hitam (golongan jahat).

Pada jaman sekarang kebanyakan istilah kebatinan disamakan orang dengan ajaran klenik ilmu perdukunan, dianggap sama dengan ilmu gaib kejawen, yang identik dengan amalan dan mantra, dan sesaji, dan keris. Dan orang yang sedang bertirakat di tempat-tempat angker, atau yang sedang ngalap berkah, dianggap orang itu sedang menjalani laku kebatinan.

Selain itu banyak juga orang yang mempertentangkan kebatinan dengan agama, menganggap kebatinan sebagai aliran kebatinan / kepercayaan saja, atau menganggapnya sama dengan paham animisme / dinamisme, dianggap musuh dari agama, yang harus diberantas, karena bisa merusak keimanan seseorang.

Begitu juga dengan banyaknya tulisan yang membabarkan kebatinan dan spiritualitas kejawen. Tulisan-tulisan itu kebanyakan adalah sudut pandang orang jaman sekarang tentang kebatinan dan spiritualitas jawa, hanya mengupas wejangan-wejangan dan petuah-petuah kesepuhan jawa saja, hanya mengupas kulitnya saja, tidak benar-benar masuk ke dalam kebatinan dan spiritualitas kejawen yang sesungguhnya. Dan mengenai budaya dan ritual-ritual masyarakat jawa yang sampai sekarang masih dilakukan orang pun sudah tidak lagi murni berdasarkan budaya kebatinan jawa yang asli, karena ke dalamnya sudah masuk unsur-unsur agama Islam, sikap batin dalam melakukannya sudah diisi dengan sikap keagamaan Islam, sudah menjadi budaya Islam kejawen, bukan asli jawa lagi.

Begitu juga dengan maraknya tulisan-tulisan orang tentang ilmu kebatinan jawa yang itu sebenarnya adalah ilmu gaib kejawen, bukan ilmu kebatinan jawa. Malah dalam tulisan-tulisan itu banyak orang yang menganggap ilmu kebatinan sama dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, atau dianggap sama dengan keilmuan perdukunan. Tetapi ilmu kebatinan sama sekali tidak bisa disamakan dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, apalagi perdukunan, karena sifat keilmuannya berbeda.

Yang sekarang masih banyak dijalani dan dipraktekkan orang, yang sering dikatakan sebagai ilmu kebatinan, seperti ilmu kejawen atau ilmu Islam kejawen, kebanyakan proporsinya sebagai ilmu kebatinan sangat kecil, mungkin 10%-nya saja tidak sampai. Sekalipun di dalam ilmu-ilmu tersebut ada banyak bentuk laku keilmuan yang mirip, seperti adanya mantra dan amalan-amalan gaib, laku prihatin, puasa dan tirakat, dsb, ilmu-ilmu itu sebenarnya lebih banyak bersifat sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam, bukan kebatinan.

Pada jaman sekarang konotasi pemahaman orang tentang ilmu kebatinan adalah sama dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, sejenis ilmu kegaiban yang penuh dengan amalan gaib dan mantra, yang konotasinya dianggap sama dengan ilmu perdukunan, yang dalam prakteknya sangat mengandalkan wiridan / pembacaan amalan gaib dan mantra-mantra. Apalagi banyak pelaku ilmu gaib dan ilmu khodam yang sering mengatakan ilmu mereka adalah ilmu batin / kebatinan. Tetapi ternyata sebenarnya tidak begitu. Ilmu kebatinan tidaklah sama dengan ilmu gaib dan ilmu khodam. Mengenai pengertian ilmu gaib dan ilmu khodam untuk kita bisa lebih jelas membedakannya dengan ilmu kebatinan Penulis sudah menuliskannya di dalam halaman tersendiri yang berjudul Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam.

Begitu juga dengan banyaknya laku yang dilakukan orang di tempat-tempat yang wingit dan angker. Walaupun itu sering dikatakan orang sebagai laku kebatinan, tetapi sebenarnya itu lebih banyak arahnya pada usaha "ngelmu gaib", yaitu usaha untuk mendapatkan suatu ilmu gaib / khodam atau ilmu kesaktian berkhodam, atau suatu bentuk laku dalam rangka orang "ngalap berkah", bukan kebatinan.

Seringkali orang memandang istilah kebatinan secara dangkal, hanya memandangnya dari kulitnya saja dan mempertentangkannya dengan agama, karena kebatinan dianggap sederajat dengan agama, dianggap sebuah agama, padahal pengertian kebatinan ini bersifat luas.

Walaupun pengertian kebatinan bersifat luas, tetapi dunia kebatinan pada masa sekarang memang sudah termasuk "haram" untuk diperbincangkan, karena orang berpandangan sempit dan dangkal tentang kebatinan. Orang tidak punya pengertian yang benar tentang kebatinan, hanya menganggapnya sama dengan bentuk aliran kepercayaan saja, yang berbeda dengan jalan agamanya, sehingga segala sesuatu yang berbau kebatinan dianggap sebagai sesuatu yang harus diberantas, karena dianggap bisa melemahkan / meracuni / merusak keimanan dan agama.

Perilaku kebatinan (misalnya kejawen) yang dilakukan oleh seseorang yang beragama, seringkali memang dipertentangkan orang, dianggap bertentangan dengan agama, atau bahkan dianggap sebagai ajaran / aliran sesat atau dianggap sebagai ajaran / aliran yang bisa merusak keimanan seseorang. Padahal, penghayatan kebatinan yang bersifat kerohanian pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan. Penghayatan ketuhanan itu bukanlah agama, tetapi seseorang beragama yang menjalaninya justru bisa mendapatkan pemahaman yang dalam tentang agamanya dan Tuhan setelah menjalani kebatinan tersebut, dan seseorang bisa mendapatkan pencerahan tentang agamanya, walaupun pencerahan itu didapatkannya dari luar agamanya.

Kebatinan terutama berisi penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya, termasuk yang berkenaan dengan agama dan kepercayaan, karena di dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung sisi kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya.

Seseorang yang banyak menghayati isi hatinya, atau isi pikirannya, akan lebih banyak "masuk" ke dalam dirinya sendiri, menjadikan dirinya lebih "sepuh" dibandingkan jika ia mengabaikannya. Selanjutnya apa saja isi penghayatannya itu akan menjadi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari, akan menjadi bagian yang sepuh dari kepribadiannya.

Kebatinan terutama berisi pengimanan / penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya, apapun agama atau kepercayaannya, dan di dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung sisi kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Di dalam setiap firman dan sabda selalu terkandung makna kebatinan dan spiritual yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Tetapi sikap kebatinan dalam berkeagamaan ini sudah banyak orang yang meninggalkannya, sudah banyak digantikan dengan ajaran tata laku ibadah formal saja dan dogma / doktrin ke-Aku-an agama. Orang lebih memilih menjalani kehidupan yang formal agamis dan menjalankan sisi peribadatan yang formal dan wajib saja. Sisi kebatinan dari agamanya sendiri seringkali tidak ditekuni.

Sikap berkebatinan dalam beragama saja jarang ada orang yang menekuni. Orang lebih suka menjalani / mempelajari agama dan tatalaku ibadahnya yang bersifat formal saja dan banyak orang yang hanya mengikuti saja dogma dan doktrin dalam agama. Sekalipun banyak orang hafal dan fasih ayat-ayat suci, tetapi tidak banyak yang mengerti sisi kebatinan dan spiritualnya, akibatnya pengkultusan dan dogma dalam kehidupan beragama sangat mendominasi kehidupan beragama, membuat buntu spiritualitas beragama, sehingga banyak sekali memunculkan perbedaan pandang dan pertentangan di kalangan mereka sendiri. Banyaknya aliran dan sekte dalam suatu agama adalah bentuk dari ketidak-seragaman kebatinan dan spiritual para penganut agama itu sendiri.

Perilaku berkebatinan, termasuk berkebatinan dalam beragama, apapun agama dan kepercayaannya, baik sekali untuk dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak dangkal pemahamannya atau hanya ikut-ikutan saja, tetapi materi kebatinannya harus dicermati dan di-"filter", dan memiliki kebijaksanaan spiritual untuk memilih yang baik dan membuang yang tidak baik, sehingga kemudian orang dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan mendalam. Jangan membodohi diri dengan berpikiran dangkal dan sempit dan jangan mengkondisikan diri untuk mudah dibodohi dan dihasut, apalagi disesatkan.

Memang perlu bahwa manusia memiliki keyakinan dan prinsip hidup yang kuat sebagai bagian dari kepribadian yang kuat. Dan seorang penganut agama / kepercayaan yang tekun mendalami sisi kebatinan dalam agama dan kepercayaannya akan memiliki penghayatan dan kekuatan batin yang lebih, dibandingkan yang hanya menjalani kepercayaannya secara formalitas saja, apalagi dibandingkan yang mengabaikannya.

Aspek kebatinan bukan hanya ada dalam dunia kepercayaan / keagamaan saja atau hanya dalam bentuk keilmuan kebatinan saja. Sisi kebatinan ada dalam semua sisi kehidupan manusia dan menjadi bagian dari kepribadian seseorang. Tetapi yang dominan menambah nilai pada kekuatan kebatinan seseorang adalah keyakinan terhadap sesuatu dan keyakinan itu konsisten dijalaninya sepenuh hati dalam hidupnya. Dan bila keyakinan itu konsisten dijalaninya, semakin banyaknya godaan / gangguan, jika ia mampu melawan, mampu menolaknya, maka akan semakin bertambah kekuatan dan kekerasan batinnya.

Aspek kebatinan akan menambah kekuatan batin seseorang bila dilandasi sikap keyakinan di dalamnya dan dilaksanakan sepenuh hati dalam kehidupannya sehari-hari. Kalau tidak begitu, maka itu hanya akan menjadi sebuah konsep atau prinsip hidup, tetapi tidak menambah nilai pada kebatinannya. Dan yang jelas berpengaruh sekali pada kekuatan kebatinan seseorang adalah keyakinan yang dominan dalam kehidupan seseorang, seperti ketekunan dan keyakinan pada agama, atau keyakinan pada suatu bentuk keilmuan.

Kekuatan kebatinan dan kegaiban kebatinan sebenarnya tidak perlu dicari kemana-mana. Kekuatan kebatinan dan kegaiban kebatinan sebenarnya berasal dari diri sendiri, berasal dari kekuatan penghayatan atas sesuatu yang kita yakini, dan sugesti keyakinan itu akan menciptakan suatu kegaiban tersendiri. Kita sendiri bisa mengalaminya. Misalnya dalam kehidupan kita beragama, cukup satu saja firman atau sabda dalam ajaran agama kita hayati maknanya, kita imani dan kita perdalam dengan dibaca berulang-ulang di dalam hati (atau diwirid) dengan penghayatan. Penghayatan kita itu kita pegang teguh dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menyatu dan mengisi hati dan batin kita. Setelah itu kita akan dapat merasakan adanya rasa kegaiban tersendiri, kekuatan batin tersendiri, dan itu hanya kita sendiri yang menjalaninya saja yang tahu dan merasakannya. Seberapa kuat penghayatan kita itu dan seberapa dalam keyakinan keimanan kita itu akan menciptakan suatu kekuatan batin dan kegaiban tersendiri.

Manusia yang menekuni dan memperdalam kebatinan tertentu, termasuk kebatinan agama, akan memiliki lebih banyak penghayatan dan pemahaman tentang kegaiban hidup dan kegaiban alam, akan memiliki kepekaan dan kekuatan batin tertentu, dan akan memiliki kegaiban-kegaiban tertentu. Dalam laku manusia menekuni dan memperdalam kebatinan itu, secara pribadi maupun melalui suatu perkumpulan atau kelompok keagamaan, manusia akan menemukan suatu kekuatan yang bersifat batin, kekuatan kebatinan, suatu kekuatan sugesti yang berasal dari ketekunan dan kekuatan kepercayaan, yang setelah ditekuni, diolah secara khusus, ketika itu diamalkan akan dapat mewujudkan suatu kegaiban atau mukjizat tersendiri, dapat juga disugestikan menjadi ilmu-ilmu kebatinan.

Jadi, di dalam laku olah kebatinan , apapun bentuk dan laku kebatinannya, ada 2 hal pokok di dalamnya, yaitu pengolahan penghayatan kebatinan (pemahaman dan penghayatan) dan pengolahan kekuatan kebatinan.

Tetapi dalam kehidupan jaman sekarang perilaku kehidupan berkebatinan sudah digantikan dengan kehidupan agamis formal, dan olah batin sudah digantikan dengan hanya membaca (dan menghafal) ayat-ayat suci dan firman-firman saja (atau amalan doa). Orang lebih suka mempelajari kegaiban dan ilmu-ilmu kebatinan secara tersendiri, yang kemudian mewujud menjadi ilmu gaib dan ilmu khodam, yang seringkali tidak dilandasi dengan kekuatan kebatinan, karena tidak didasari dengan olah batin, hanya menghapal dan mewirid mantra dan amalan ilmu gaib / khodam saja untuk tujuan keilmuan tertentu, walaupun ada yang ilmunya dihubungkan dengan agama.

Penghayatan Kebatinan

Kebatinan adalah mengenai segala sesuatu yang dirasakan manusia pada batinnya yang paling dalam.

Kebatinan terutama berisi penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya atas segala sesuatu aspek dalam hidupnya, termasuk yang berkenaan dengan agama dan kepercayaan, karena di dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung sisi kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Apa saja yang dihayatinya itu selanjutnya akan bersifat pribadi, akan mengisi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari, akan menjadi bagian dari kepribadiannya.

Orang yang memiliki hikmat dan penghayatan tertentu, biasanya psikologisnya akan menjadi lebih "sepuh". Biasanya juga ia akan semakin banyak diam, semakin banyak "masuk" ke dalam dirinya dan semakin banyak menggali dari dalam dirinya. Itulah yang disebut kebatinan.

Seseorang yang banyak menghayati isi hatinya, atau isi pikirannya, ia akan lebih banyak "masuk" ke dalam dirinya sendiri, menjadikan dirinya lebih "sepuh" dibandingkan jika ia mengabaikannya. Apa saja isi penghayatannya itu akan menjadi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari, akan menjadi bagian yang sepuh dari kepribadiannya.

Semua laku yang bersifat kebatinan di dalamnya selalu disebutkan tujuannya (termasuk tujuan sugestinya) dan selalu mengedepankan penghayatan, baik itu laku kebatinan kerohanian / ketuhanan / keagamaan, maupun yang bersifat keilmuan, bukan mengedepankan kepintaran berpikir dan berlogika, bukan sebatas terlaksananya bentuk laku formalnya, bukan juga mengedepankan amalan doa dan mantra. Pemahaman seseorang akan tujuan lakunya dan kualitas penghayatan dan penjiwaannya dalam lakunya itu, selain ketekunannya, akan sangat membedakan hasil dan prestasi yang mampu diraihnya dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Karena itu jika seseorang menjalani suatu laku yang bersifat kebatinan, baik kerohanian maupun keilmuan, selalu dituntut supaya orangnya memahami tujuan dari lakunya itu dan mampu menghayati lakunya, sehingga jika orang itu mengalami kesulitan dalam ia menjalani lakunya itu kemungkinan penyebabnya adalah karena ia belum bisa menghayati lakunya (atau belum tahu tujuan dari lakunya).

Jika seseorang sudah bisa menghayati lakunya, maka ia akan menemukan suatu rasa yang bersifat khusus, yang itu hanya ada dalam lakunya itu saja, tidak ada dalam aktivitasnya yang lain, yang kemudian setelah semakin didalami dan matang, maka itu akan mewujud menjadi kekuatan rasa.

Kekuatan rasa setelah semakin didalami dan matang, jika seseorang menerapkan itu dalam semua aktivitas kehidupannya maka semua perbuatan-perbuatannya akan mengandung suatu kegaiban yang akan bisa dirasakan perbedaan kegaibannya dibanding jika ia melakukan perbuatan yang sama dengan sikap batin yang biasa saja.

Pada tahap selanjutnya untuk melakukan suatu perbuatan dalam lakunya itu ia melakukannya dengan cara bersugesti, yaitu mengkondisikan sikap batinnya secara khusus , mendayagunakan penghayatan rasa untuk melakukan suatu perbuatan tertentu, mendayagunakan kekuatan rasa.

Penghayatan, olah rasa dan olah sugesti adalah dasar-dasar dalam keilmuan kebatinan dan spiritual, selalu ada dalam semua laku yang bersifat kebatinan dan spiritual yang itu harus lebih dulu bisa dikuasai oleh para pelakunya sebelum menapak ke tingkatan yang lebih tinggi. Sekalipun sudah banyak ilmunya, sudah tinggi kekuatan sukmanya, orang akan kesulitan menjajagi keilmuan kebatinan dan spiritual yang lebih tinggi jika kemampuan penghayatan, olah rasa dan olah sugesti belum dikuasai, karena itu adalah pondasinya.

Karena itu jika para pembaca ingin mempelajari dan menjalani suatu laku yang bersifat kebatinan dan spiritual, maka poin-poin di atas harus lebih dulu dimengerti dan dikuasai dan harus diterapkan dalam lakunya itu supaya lakunya itu lebih bisa diharapkan keberhasilannya dibanding jika poin-poin itu belum dikuasai. Pemahaman anda atas tujuan lakunya akan menuntun laku anda ke arah tujuan yang benar, tidak mengambang mengawang-awang tak tentu arah. Dan selain ketekunan anda, kualitas penghayatan dan penjiwaan anda akan sangat membedakan hasil dan prestasi yang mampu anda raih dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Jika kita bisa menghayati lakunya, kita akan menemukan suatu rasa yang bersifat khusus, yang itu hanya ada dalam laku itu saja, tidak ada dalam aktivitas kita yang lain. Kualitas kita atas penghayatan dan penjiwaan itu akan sangat membedakan kondisi batin kita sebelum, selama dan sesudah kita melakukannya, akan ada pencerahan tersendiri dalam kerohanian kita dan itu akan membedakan kita dengan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama. Sesudahnya setiap kita menjalani laku yang sama diharapkan agar kita selalu mampu menghayati laku kita itu supaya juga dapat memperbaiki kualitas pencapaian kita. Kalau sesudah kita menjalani lakunya ternyata kita tidak mendapatkan pencerahan apa-apa, kemungkinan besar penyebabnya adalah karena kita belum tahu tujuan lakunya atau belum bisa menghayati lakunya.

 

Olah Kebatinan dan Olah Spiritual

Olah Kebatinan berkaitan dengan ketekunan penghayatan kebatinan, kekuatan penghayatan, kekuatan batin dan kegaiban kebatinan, disertai dengan landasan filosofi kebatinan spiritual, seperti filosofi dalam cerita-cerita keagamaan, filosofi dalam cerita pewayangan, atau dalam kebatinan kejawen ada filosofi saudara kembar sedulur papat lan kalima pancer, ilmu kasampurnan (kesempurnaan), konsep Manunggaling Kawula Lan Gusti, Sukma Sejati, Guru Sejati, Sangkan Paraning Dumadi (hakekat / kesejatian manusia), dsb.
Dalam menekuni kebatinan, berbagai cerita dan filosofi kebatinan spiritual tersebut di atas adalah dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), tuntunan pemahaman kerohanian, sasaran / tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita spiritual kebatinan.

Orang-orang yang menekuni kebatinan biasanya juga mengerti tentang kegaiban, memiliki kepekaan tertentu mengenai kegaiban, kegaiban hidup dan kegaiban alam, dapat membedakan suatu rasa yang merupakan pertanda dari akan terjadinya suatu kejadian, atau tentang kejadian-kejadian yang akan datang, dsb, yang selain berasal dari pengetahuannya sendiri, biasanya juga didapatkannya dari ilham atau bisikan gaib (wisik / wangsit).

Secara sederhana batin diartikan sebagai sesuatu yang dirasakan manusia pada hatinya yang paling dalam.
Tetapi istilah batin dalam konteks keilmuan tidak persis sama dengan kosa kata pengertian umum, karena pengertian batin dalam konteks keilmuan lebih banyak arahnya kepada kebatinan dan ilmu-ilmu kebatinan.

Olah rasa dan olah sugesti adalah dasar-dasar di dalam keilmuan kebatinan-spiritual. Kemampuan olah rasa dan olah sugesti harus lebih dulu dikuasai sebelum orang mempelajari tingkatan keilmuan lain yang lebih tinggi, karena itu adalah pondasinya.

Sebagai pemahaman dasar, keilmuan kebatinan adalah jenis keilmuan berdasarkan olah kebatinan untuk mengolah potensi kebatinan manusia, mengolah potensi kegaiban sukma manusia, kegaiban rohnya, jangan disamakan dengan aliran ilmu gaib yang hanya mengedepankan amalan gaib dan mantra, atau yang hanya mengandalkan khodam, jimat dan pusaka, dan jangan disamakan konotasinya seperti cerita perdukunan di televisi.

Ilmu kebatinan adalah jenis keilmuan yang mengolah potensi kebatinan manusia, mengolah potensi kegaiban sukmanya, kegaiban rohnya. Dan itu tidak selalu mudah bagi semua orang, karena tidak semua orang mampu "masuk" ke dalam dirinya yang terdalam, lebih banyak orang yang hanya mampu mengolah apa yang ada di luar saja, kulitnya saja (ilmu kulit), bukan yang ada di dalam (ilmu dalaman). Dan jangan berharap ada jalan pintas dan belajar cara mudah dengan hanya menghapalkan dan mewirid amalan gaib dan mantra saja, berpuasa, berprihatin, tirakat atau mengandalkan keampuhan khodam, jimat dan pusaka saja.

Dalam rangka mempelajari ilmu kebatinan orang harus bisa mengedepankan batinnya, bukan pikirannya, untuk bisa peka rasa merasakan apa yang ada di dalam batinnya yang terdalam. Dengan olah kebatinan potensi kegaiban kebatinan / sukma manusia itu digali dan ditingkatkan kualitasnya, yang jika berhasil mencapai tingkatan tertentu yang tinggi kegaiban sukma manusia akan dapat melebihi kegaiban roh-roh gaib apapun yang ada di bumi ini.

Dalam rangka mempelajari ilmu kebatinan dan kegaiban jangan sekali-kali menyombongkan nalar dan logika, atau kepintaran dan kejeniusan berpikir. Tidak semua orang dengan pikirannya mampu mencerna sesuatu yang hanya bisa diinderai dengan rasa dan batin, sesuatu yang nyata ada, tetapi tidak kelihatan mata, sehingga banyak hal-hal gaib dan ilmu gaib sering dikatakan orang sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, akan dianggap klenik, mitos atau pengkultusan.

Dalam olah kebatinan dan kegaiban yang lebih banyak berperan adalah rasa dan batin (olah rasa dan olah batin, bukan olah pikiran) dan kecerdasan batin (bukan kejeniusan). Jika terlalu mengedepankan sikap berpikir, maka sesuatu yang mudah diinderai oleh orang yang peka rasa akan sulit sekali diinderai oleh orang yang terlalu mengedepankan sikap berpikirnya. Dalam hal ini semua kegaiban itu bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal, tetapi akalnya saja yang tidak sampai, akalnya saja yang tidak mampu mencerna. Mampu mencerna saja tidak, apalagi menciptakan alat-alat modern untuk membuktikan kebenaran atas hal-hal gaib.

Dalam hal ini sudah terjadi kesalahan metode dan sikap berpikir. Hal-hal kegaiban hanya bisa diinderai dengan rasa dan kecerdasan batin, bukan dengan pikiran atau kejeniusan berpikir, apalagi sok berlogika. Secara logis semua fakta dan bukti-bukti empiris harus didapatkan dengan olah rasa dan batin, sesudahnya barulah dinalar dengan pikiran. Orang harus bisa peka rasa untuk menginderai kegaiban, sesudahnya barulah dinalar dengan pikiran. Itulah metodenya sehingga kemampuan gaib dan ilmu-ilmu gaib bisa dikembangkan.

Sebenarnya tidak harus seseorang menjadi seorang yang mumpuni dalam hal kegaiban, karena semuanya tergantung pada unsur interest dan aspek manfaat bagi masing-masing orang, tetapi sebaiknya minimal kita bisa peka rasa supaya bisa merasakan dan mengetahui sesuatu yang sifatnya negatif yang akan atau sedang terjadi pada dirinya sendiri maupun keluarga dan orang-orang terdekatnya, supaya kemudian bisa melakukan tindakan preventif yang diperlukan. Jangan membodohi diri dengan menganggap semua kejadian di dunia manusia bisa dinalar dan bisa ditangani dengan cara-cara dan peralatan modern, apalagi cara-cara dan peralatan modern pun masih mempunyai keterbatasan, tidak mampu untuk digunakan mendeteksi, apalagi menangani, hal-hal yang terkait dengan kegaiban. Kebatinan / kegaiban dan cara-cara modern tidak saling menggantikan, tidak saling menghapuskan, tetapi saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Olah Kebatinan berkaitan dengan pengolahan potensi kebatinan manusia, potensi kegaiban sukma manusia.
Olah batin, yang bersifat keilmuan, adalah tingkatan selanjutnya dari olah rasa. Kekuatan yang dihasilkan juga bukan lagi kekuatan fisik atau tenaga dalam, tetapi kekuatan batin. Dalam olah batin ini orang hanya sedikit saja melakukan olah gerak atau olah nafas. Yang banyak dilakukan adalah olah laku penghayatan untuk mempertajam kepekaan dan meningkatkan kekuatan kebatinan, dengan perenungan-perenungan, berpuasa, menyepi, tirakat dan laku prihatin, amalan-amalan dan doa-doa kebatinan, semadi, tapa brata, dsb. Cakra tubuh yang bekerja adalah cakra yang berada di bawah pusar sampai ke ubun-ubun.

Dalam olah batin kita mengolah potensi kebatinan, yaitu potensi kekuatan dan kegaiban roh kita, sukma kita, kesatuan kesadaran (pancer) dan roh sedulur papat yang menyatu di dalam tubuh kita, yang menjadi bagian dari kebatinan kita. Di dalamnya terdapat olah rasa dan olah sugesti, olah kepekaan rasa untuk tanggap firasat dan sasmita, olah kekuatan, kepekaan dan ketajaman kebatinan, penghayatan keyakinan kebatinan dan pengolahan ilmu-ilmu kebatinan.

Seperti yang sudah kita ketahui, ada roh gaib di dalam diri kita sendiri, yaitu sukma kita, kesatuan roh sedulur papat dan pancer kita (baca: Sedulur Papat Kalima Pancer). Kekuatan dari roh gaib kita sendiri itulah yang utama diolah dalam olah batin. Jadi inti dari olah kebatinan, yang bersifat keilmuan, adalah mengolah kekuatan kita sendiri, yaitu kekuatan dari roh / sukma / batin. Kegaiban yang kemudian dihasilkan adalah juga dari diri kita sendiri, kegaiban sukma kita sendiri, bukan kegaiban dari gaib lain seperti jin atau gondoruwo (khodam ilmu / prewangan).
Unsur penting dalam ilmu kebatinan adalah olah rasa dan sugesti (untuk mengsugesti diri sendiri atau orang lain). Olah rasa dan olah sugesti biasanya diawali dengan orang melatih kepekaan batin (olah rasa) dengan mempelajari kegaiban alam, mendatangi dan bertirakat di tempat-tempat yang angker / wingit, dan melatih peka lingkungan gaib seperti dalam tulisan Olah Rasa dan Kebatinan dan mempelajari kegaiban benda-benda pusaka dan jimat dan melatih mengsugesti kegaibannya (cara mudahnya adalah dengan cara-cara yang dicontohkan dalam tulisan berjudul Ilmu Tayuh / Menayuh Keris).

Olah Spiritual berkaitan dengan pengolahan potensi spiritual manusia, olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang gaib, asal-usul tentang sesuatu, kejadian-kejadian pada masa lalu atau kejadian-kejadian yang akan datang, sampai olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang tidak tampak mata dan berdimensi gaib tinggi. Dalam mempelajari sesuatu, dalam olah laku spiritual orang akan mempelajari bukan hanya sebatas kulitnya saja, tetapi juga sampai kepada hakekat kesejatiannya. Spiritualitas yang tinggi biasanya adalah hasil dari laku kebatinan dan spiritual seseorang dalam rangka pencarian ketuhanan.

Laku kebatinan dan spiritual biasanya merupakan sesuatu yang dilakukan bersama-sama, satu kesatuan laku yang tidak terpisahkan.

Biasanya orang menekuni dunia spiritual bersamaan atau sebagai kelanjutan dari laku kebatinannya. Termasuk dalam laku kebatinan untuk kanuragan / kesaktian, olah spiritual dilakukan bersamaan atau sebagai kelanjutan laku kebatinannya untuk menelisik lebih dalam sisi spiritual / kesejatian dan potensi dari keilmuannya. Begitu juga dalam hal kebatinan ketuhanan, biasanya lakunya kemudian dilanjutkan menjadi laku kebatinan-spiritual ketuhanan, untuk menelisik kesejatian dan potensi dari laku ketuhanannya. Dengan demikian dari laku kebatinan dan spiritualnya itu orang tersebut menguasai sekaligus sisi kebatinan dan spiritualnya, kekuatan kebatinan dan kekuatan spiritual, dan kekuatan sukmanya juga berasal dari kekuatan kebatinan dan spiritual tersebut.

Biasanya walaupun proses laku yang dijalani oleh seseorang adalah olah kebatinan, lakunya adalah kombinasi dari kebatinan dan spiritual, dan aspek pengetahuan yang dicapainya adalah juga pengetahuan yang bersifat kebatinan dan spiritual. Dalam setiap sisi kebatinan yang ditekuni seseorang selalu terkandung makna dan laku spiritual yang juga harus dikuasai. Dan dalam penggunaan kekuatan kebatinan biasanya juga disalurkan melalui kekuatan pikiran, sehingga biasanya orang-orang yang menekuni kebatinan, laku kebatinannya itu bukan hanya membentuk kekuatan kebatinan, tapi juga membentuk kekuatan gaib spiritual. Dan biasanya para tokoh kebatinan dan para praktisi kebatinan, orang-orang yang benar-benar menekuni kebatinan, biasanya mempunyai kemampuan spiritual juga.

Pengetahuan yang didapat dari laku kebatinan bersifat dalam, berupa penghayatan kesejatian akan sesuatu, sehingga pengetahuannya itu tidak dangkal, tidak mengawang-awang, tidak berisi dogma dan pengkultusan, yang pengetahuan itu akan juga bisa dibuktikan oleh orang lain yang sama-sama mempelajari kesejatiannya.

Pengetahuan yang didapat dari laku spiritual adalah kelanjutan dari pemahaman atas kesejatian sesuatu yang kemudian ditindaklanjuti untuk mencari kesejatiannya yang lebih tinggi.

Karena itu orang-orang yang tekun di dalam olah kebatinan dan spiritual akan memiliki penghayatan atas sesuatu secara mendalam, sekaligus juga tinggi, dibandingkan pemahaman orang lain yang umum atas sesuatu objek yang sama.

Orang-orang yang menekuni suatu olah kebatinan biasanya memahami aspek spiritual dari olah kebatinan yang ditekuninya. Tetapi aspek spiritual lain yang lebih tinggi biasanya tidak ditekuni, karena biasanya lakunya hanya berkonsentrasi pada aspek spiritual yang terkait dengan apa yang sedang dijalaninya saja sesuai yang diajarkan kepadanya. Tetapi para tokoh kebatinan, yang menemukan konsep-konsep kebatinan, yang kemudian mengajarkannya kepada murid-murid atau para pengikutnya, biasanya menguasai aspek spiritual dari kebatinannya secara mendalam dan juga memiliki spiritualitas yang tinggi.

Dalam proses awal laku kebatinan-spiritual, seseorang memusatkan perhatiannya secara batin, olah rasa dan batin, mengedepankan rasa dan kebatinan. Pada proses selanjutnya, orang itu memusatkan perhatiannya di kepala, mempertegas apa yang ada di dalam batin dan di "awang-awang", untuk menindaklanjuti ide / ilham dan bisikan gaib / wangsit untuk mempelajari lebih lanjut kesejatian spiritual dari sesuatu yang sedang dijalani. Selanjutnya berdasarkan semua ide / ilham tersebut ia akan melanjutkan pencariannya sampai ke dimensi spiritual yang lebih tinggi. Karena itu kebanyakan laku kebatinan dan spiritual seseorang akan menciptakan suatu kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya "dalam" dan "tinggi" bagi orang kebanyakan yang mengantarkannya menjadi seorang yang linuwih dan waskita.

Seseorang yang menjalani laku kebatinan akan merasakan "energi" kekuatan kebatinannya di dada. Sesuai penguasaan dan pencapaiannya "energi" kekuatan kebatinannya itu akan mengisi kekuatan tangan, kaki, tubuh (kanuragan), menjadi kekuatan gaib yang melipatgandakan kesaktian seseorang. Kegaiban sukma dari laku kebatinannya akan juga membentuk dirinya menjadi seorang yang linuwih dan waskita. Dalam praktek penggunaannya selain kekuatan kebatinannya mengisi tubuh, kekuatan itu juga dipusatkan di kepala, menjadi kekuatan spiritual.

Pada jaman dulu orang-orang yang sedang khusus menjalani laku kebatinan dan spiritual biasanya akan melakukannya dengan jalan menyepi, berpuasa, semadi, atau tapa brata. Selain dilakukan dengan tujuan mendapatkan pencerahan spiritual yang terkait dengan kesaktian atau dunia spiritual, kekuatan dari laku kebatinan dan spiritual mereka itu akan menambah tinggi kekuatan kesaktian / kanuragan mereka dan sekaligus juga menambah tinggi kekuatan sukma dari laku kebatinan dan spiritual mereka.

Tidak seperti di jaman sekarang yang orang memandang olah spiritual sebagai jenis keilmuan tersendiri yang berbeda dengan olah kebatinan yang kemudian secara khusus diajarkan / diwujudkan dalam kursus / perguruan meditasi pembangkitan kundalini, reiki, dsb, pada jaman dulu orang-orang yang benar menekuni dunia spiritual akan memahami bahwa olah laku kebatinan dan olah spiritual adalah sesuatu yang menyatu, merupakan satu kesatuan laku yang salah satunya tidak boleh diabaikan.

Ilmu kebatinan dan ilmu spiritual bukanlah jenis-jenis keilmuan yang berdiri sendiri-sendiri. Begitu juga dengan olah lakunya. Laku olah kebatinan biasanya dilanjutkan dengan olah spiritual, atau olah spiritual biasanya adalah kelanjutan dari olah kebatinan seseorang. Begitu juga dalam laku melatih energi kekuatan spiritual, biasanya juga dijalani dengan kombinasi kebatinan. Kekuatan spiritual sebenarnya juga adalah kekuatan kebatinan yang kekuatannya difokuskan di kepala. Kekuatan spiritual dan tingkat spiritualitas seseorang akan lemah jika tidak didasari oleh olah kebatinan. Olah laku kebatinan merupakan pondasi bagi kemampuan spiritual seseorang.

Dengan demikian laku olah spiritual biasanya dijalani orang bersama-sama atau merupakan kelanjutan dari laku kebatinan, sehingga olah spiritual itu sebenarnya bukanlah suatu jenis ilmu yang berdiri sendiri yang dipelajari secara tersendiri (seperti yang diajarkan pada masa sekarang dalam pelajaran praktis meditasi kundalini dan reiki), tetapi sebenarnya berhubungan dan menjadi satu kesatuan dengan olah kebatinan dan merupakan tindak lanjut dari laku kebatinan. Dengan demikian seseorang yang menjalani laku spiritual biasanya adalah bagian dan kelanjutan dari laku kebatinannya dan seseorang yang menjalani laku kebatinan biasanya juga menguasai tingkat spiritualitas tertentu sesuai pencapaian spiritualnya pada bidang interest-nya masing-masing.

Karena itu jika kita sudah masuk ke dunia kebatinan sebaiknya kita juga mempelajari sisi spiritual dari apa yang sedang kita jalani, supaya kita juga mengetahui secara mendalam apa yang sedang kita jalani itu dan bisa mengetahui potensi dan arah pengembangannya dari apa yang menjadi interest kita itu.

Olah Laku Kebatinan

Ada tips sederhana untuk melatih kekuatan dan kekerasan batin dan mental sbb :

Di tempat yang berpenghuni mahluk halus, bila kita merinding, itu biasa. Tetapi bila kita bisa merasakan adanya tekanan di dada sampai kita merasa seperti sulit bernafas, berarti kita bisa merasakan keberadaan mahluk halus itu dengan rasa , ada semacam perbenturan energi di dada. Kondisi inilah yang kita inginkan untuk melatih kekuatan batin.

Tetapi bila kita merinding dan merasakan takut yang mencekam, berarti si mahluk gaib memancarkan sinyal tidak menghendaki keberadaan kita di situ. Sebaiknya kita jangan menunjukkan perilaku yang tidak pantas, seperti sok berani tidak takut, apalagi menantang. Sebaiknya kita berhati-hati dan menghormati keberadaan mereka. Lebih baik kita menyingkir saja, cari aman. Yang penting sama-sama selamat.

Ada banyak jenis mahluk halus dan wujudnya pun bermacam-macam. Ada yang menyerupai manusia, ada juga yang menyerupai binatang. Ada yang menyeramkan, ada juga yang cantik / ganteng, enak dipandang. Tetapi walaupun sosoknya cantik / ganteng, tetap saja membuat takut. Sebenarnya yang membuat takut bukan semata-mata penampilannya, tetapi terutama adalah pancaran psikologisnya yang sengaja membuat takut manusia, sehingga walaupun manusia tidak melihat sosoknya, dan sosok gaibnya juga tidak menampakkan dirinya, tetapi pancaran psikologisnya itu sudah dapat membuat manusia lemas ketakutan atau bahkan pingsan.

Untuk melatih membangun kekuatan rasa dan batin, pada saat kita merasa dada tertekan seperti disebut di atas (dan tidak merinding ketakutan), cobalah tenangkan batin, tetapi jangan menenangkan nafas, biarkan nafas tetap tertekan. Rasa tertekan di dada itulah yang kita cari. Lebih bagus lagi bila pada saat itu kita juga merasakan tangan dan seluruh tubuh bergetar kencang. Itu adalah gerakan perlawanan dari sukma kita plus kundalini (sejenis tenaga dalam murni). Cobalah rasa dada tertekan itu dilawan, bukan dengan menenangkan nafas, tetapi dengan menekan nafas, sampai rasa tertekan di dada hilang. Bila perlu, lakukan sedikit gerakan tangan untuk bantuan (tangan mengepal dan badan dikeraskan). Dengan beberapa kali melakukan cara sederhana seperti itu saja kita sudah melatih membangun kekuatan rasa dan kekerasan batin. Setelah beberapa kali latihan, anda bisa merasakan sendiri adanya perbedaan pada diri anda.

Latihan di atas tujuannya adalah untuk menguatkan mental dan keyakinan, melatih kekerasan batin, bahwa secara roh kita juga bisa berdiri berdampingan dengan mahluk halus lain. Harus ditekankan bahwa cara di atas tidak dimaksudkan sebagai sikap sok kuat, apalagi menantang, tetapi untuk menumbuhkan suatu keyakinan bahwa bumi ini adalah milik semua mahluk, sehingga selama kita tidak bersikap mengganggu atau menantang, maka kita akan bisa hidup berdampingan secara roh dengan mahluk halus lain. Cara di atas selain akan meningkatkan keyakinan / kekuatan batin, juga akan meningkatkan kekerasan batin, kekuatan sukma dan mengalirkan kundalini yang akan menguatkan dan menyegarkan tubuh kita.

Cara latihan di atas bisa diibaratkan seperti kita latihan bulu tangkis dengan mencari lawan latihan. Dengan sering melakukan latihan tanding dengan sendirinya kemampuan kita juga akan meningkat, sehingga yang awalnya kita belum mahir, lama-kelamaan kita terpacu untuk bisa mengimbangi permainan lawan.

Harus diperhatikan : cara ini termasuk berbahaya. Lakukanlah secara hati-hati dan sopan. Pada saat kita latihan tersebut, jangan berpikir dan bersikap bahwa kita akan melawan mahluk halus tersebut (jangan sok kuat tidak takut, apalagi menantang), tetapi tanamkan dalam hati bahwa kita hanya berusaha untuk belajar menguasai / mengendalikan diri. Jika selama berada di tempat tersebut kita merasakan merinding dan rasa takut yang mencekam, itu berarti ada mahluk halus yang tidak suka dengan kehadiran kita disitu. Untuk amannya, sebaiknya kita menyingkir saja. Yang penting: sama-sama selamat.

Sejalan dengan latihan di atas, orang-orang yang tinggal di pedesaan atau di lingkungan yang sepi yang masih banyak tempat / pohon yang angker dan wingit, orang-orang yang terbiasa melewati atau mengunjungi tempat-tempat angker dan menakutkan, dan selalu berhasil menekan rasa takutnya, akan mempunyai kekuatan sukma dan kekerasan batin yang lebih dibandingkan orang-orang yang tidak berani mendatangi atau melewati tempat-tempat yang angker.

Untuk meningkatkan kekuatan batin dan keimanan juga harus disertai dengan usaha meningkatkan kekerasan batin dan kekerasan watak, sehingga kegaiban kebatinannya menjadi bulat menyatu dengan kepribadian kita, tidak mengambang dan tidak mudah melemah.

Dengan mengimani kebersamaan Tuhan dengan kita dan mengimani kuasaNya yang mengisi tubuh dan roh kita, jangan lagi kita merasa takut dengan kegelapan, roh-roh halus dan tempat-tempat angker, tetapi jangan juga bersikap sombong dan menantang (jika kita masih takut dengan kegelapan / kesunyian, berarti kita tidak mengimani kebersamaan kita dengan Tuhan).

Kita bisa melatih kekerasan batin untuk tidak takut dengan kegelapan / kesunyian, tidak takut dengan keberadaan sosok-sosok halus, tetapi harus ditekankan bahwa cara ini tidak dimaksudkan untuk menantang atau sok berani, hanya sebagai usaha untuk meningkatkan kekerasan batin dan kekuatan batin untuk ketahanan jiwa.

Rasa takut itu alami dan bisa dialami oleh siapa saja, termasuk orang-orang sakti dan yang sudah menekuni kebatinan. Tetapi harus disadari bahwa kalau kita masih takut dengan kegelapan / kesunyian dan masih takut dengan kehadiran sosok-sosok halus, berarti kekerasan batin kita lemah.

Untuk tujuan melatih kekerasan batin, untuk menekan rasa takut itu jangan digunakan amalan-amalan gaib atau doa-doa pengusir mahluk halus, tetapi tekankan pada kekerasan hati dan batin dan penghayatan kedekatan hati dengan Tuhan, yakin bahwa Tuhan memberikan kuasa dan kekuatan kepada kita untuk menjadi lebih kuat daripada sosok-sosok halus yang ada di sekitar kita (sebaiknya anda juga menjalankan laku seperti yang sudah dituliskan dalam halaman berjudul Kebatinan dalam Keagamaan).

Setelah mendalami pemahaman-pemahaman, dasar-dasar dan tujuan kerohanian / kebatinan, tahapan laku selanjutnya dalam olah keilmuan kebatinan adalah melakukan laku-laku tertentu, tirakat dan amalan-amalan tertentu untuk meningkatkan kekuatan sugesti, kekuatan kebatinan, mendapatkan pencerahan-pencerahan, dan memahami sisi kegaiban (sisi yang tidak tampak mata) dalam kebatinan. Tirakat dan amalan-amalan juga dilakukan untuk memperdalam ilmu-ilmu tertentu, seperti ilmu untuk kekuatan, kesaktian, kekebalan, melihat gaib, terawangan gaib, berkomunikasi dengan roh halus, dsb.

Pada jaman dulu, di Jawa, mayoritas keilmuan kesaktian tingkat tinggi, baik keilmuan kesaktian orang-orang dari golongan putih maupun yang dari golongan hitam, dominan didasari oleh kekuatan kebatinan, bukan ilmu gaib / khodam dan bukan tenaga dalam. Tetapi jenis dan aliran kebatinan yang ditekuni / dijalani oleh masing-masing orang tidak sama, tergantung tujuannya masing-masing dan tergantung juga pada jenis keilmuannya masing-masing.

Sebagian orang yang mendalami ilmu kebatinan juga mempunyai khodam pendamping atau khodam ilmu yang berfungsi sebagai penambah kekuatan kegaiban ilmu kebatinannya. Dalam mengolah ilmu-ilmu kebatinan memang seringkali tidak dapat dipisahkan dari ilmu gaib dan ilmu khodam, karena semuanya berkaitan dengan kegaiban dan sumber kekuatan ilmunya juga bisa berasal dari roh-roh lain (dari khodam ilmu). Tetapi kegaiban ilmu pada orang-orang kebatinan tersebut dominan berasal dari kekuatan sugesti dan kekuatan kebatinannya sendiri, bukan dari khodamnya, karena kekuatan gaib dari roh-roh lain, termasuk amalan gaib dan mantra, hanyalah sebagai penambah kekuatan kegaibannya saja, bukan sesuatu yang diandalkan kegaibannya, bukan menjadi tempat bergantung ampuhnya ilmu.

Bila kita sudah mengerti dan menguasai suatu laku kebatinan, maka kita akan memiliki kekuatan gaib tertentu dari kebatinan kita sendiri untuk bermacam-macam keperluan. Bahkan penggunaan tenaga dalam pun akhirnya akan bermuara menjadi tenaga batin, karena dalam menggunakan tenaga dalam tidak lagi menggunakan perasaan atau pikiran, tetapi menggunakan rasa batin. Begitu juga adanya khodam, itu akan menambah sisi kegaiban dari perbuatan-perbuatan kebatinannya, yang untuk menggerakkan khodamnya itu tidak dilakukan dengan japa mantra atau amalan-amalan gaib, tetapi cukup dengan sambat saja (perintah langsung) atau
khodamnya akan bekerja sendiri menyatukan diri mengikuti apa yang diperbuatnya (mengikuti sugesti kebatinannya) tanpa orangnya perlu terlebih dulu membacakan amalan dan mantra.

Pada tingkatan yang tinggi, kekuatan kebatinan ini dapat mewujudkan suatu kekuatan yang bahkan lebih kuat daripada kekuatan tenaga dalam dan khodam dan melakukannya pun tidak perlu lagi dibantu dengan amalan-amalan, gerakan-gerakan tangan atau kaki atau mengatur nafas, tetapi dilakukan dengan konsentrasi batin saja, bahkan dalam posisi tiduran atau duduk bersemedi pun bisa dilakukan. Bahkan ucapan-ucapan yang dilambari niat batin untuk terjadi, akan dapat benar terjadi, saking kersaning Allah. Kegaiban sukma dari kekuatan kebatinan itulah yang mewujudkan itu terjadi. Orang-orang yang sudah menjadi sedemikian itu sering disebut ucapannya mandi (manjur). Walaupun pewujudan kata-kata ini bisa juga dilakukan oleh orang-orang yang berkhodam, yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam (dan perdukunan), tetapi kemanjuran ucapannya itu bukan berasal dari kekuatan kebatinan, tetapi dari khodamnya yang mewujudkan terjadinya kata-katanya.

Kebatinan dan Kegaiban Sukma

Pada orang-orang yang mendalami kebatinan ada 2 jenis kekuatan gaib yang berasal dari laku penghayatan kebatinannya, yaitu kekuatan kebatinan dan kekuatan sukma, tetapi dalam sehari-harinya kedua jenis kekuatan gaib itu saling mengisi menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, yang secara keseluruhan akan menjadi kegaiban sukma yang memampukan orang melakukan banyak perbuatan gaib dan mengantarkan seseorang menjadi linuwih dan waskita.

Kekuatan kebatinan akan dirasakan di dada sebagai suatu getaran rasa atau tekanan di dada yang dapat diwujudkan menjadi energi yang mengisi kekuatan tangan, kaki dan tubuh (kanuragan), dapat diwujudkan menjadi seperti penggunaan tenaga dalam atau menjadi kekuatan pikiran sebagai kekuatan gaib yang tajam untuk menusuk menembus benteng pagaran gaib atau menyerang menusuk sukma manusia lain atau mahluk halus. Dengan kepekaan kebatinan orang juga dapat mengetahui kegaiban-kegaiban alam, kegaiban hidup, mendeteksi keberadaan mahluk halus, peka rasa, peka firasat dan bisikan gaib (peka sasmita) dan weruh sak durunge winarah dan kekuatan kebatinannya dapat mengendalikan kegaiban, tanpa perlu amalan gaib dan mantra.

Kekuatan sukma akan dirasakan sebagai kekuatan energi yang besar yang rasanya mirip seperti tenaga dalam, tetapi jauh lebih kuat daripada tenaga dalam, menyelimuti dan mengisi tubuh, membuat tubuh terasa "tebal" berselimut energi. Energi ini bukan hanya mengisi tubuh, mengisi badan, tangan dan kaki, tetapi juga mengisi hati menjadikan kehendak batin dan ucapan-ucapannya jadi ! saking kersaning Allah. Selimut energi ini melindungi seseorang dari berbagai bentuk serangan fisik dan gaib, dapat difungsikan seperti penggunaan tenaga dalam murni, bisa digunakan untuk kekuatan fisik (kanuragan), membuat pagaran gaib atau mengusir / menyerang mahluk halus, menghapuskan (menghilangkan) keilmuan seseorang, mengendalikan pikiran / kesadaran seseorang (hipnotis / gendam), dapat juga disatukan dengan tenaga dalam yang sudah dimiliki, melipat-gandakan kekuatan keilmuan kanuragan dan kegaiban seseorang.

Kegaiban sukma merupakan gabungan dari kekuatan kebatinan dan kekuatan sukma dan kegaibannya akan mendatangkan banyak ilham dan wangsit, dan mengantarkan seseorang menjadi linuwih dan waskita dan mengenal rasa mengenai kejadian-kejadian yang akan terjadi, peka sasmita dan weruh sak durunge winarah.

Seseorang yang peka dan tajam kebatinannya akan dapat mengukur apakah kekuatan sukmanya cukup untuk mewujudkan suatu kehendak perbuatan gaib, dapat mengukur kekuatan orang lain, atau mengukur kekuatan sukma dan keilmuannya sendiri apakah lebih tinggi ataukah lebih rendah ketika sedang berhadapan dengan seseorang atau berhadapan dengan mahluk halus tertentu.

Getaran perbawa kebatinan seseorang akan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya (kecuali orang itu merendahkan hati dan menutupi / menyembunyikan kekuatan kebatinannya) dan kegaiban sukma mereka akan menjadikan mereka orang-orang yang linuwih dan waskita.

Sebagian besar pemahaman kebatinan dan aliran kebatinan yang ada (di seluruh dunia) adalah bersifat kerohanian dan keagamaan, berisi upaya penghayatan manusia terhadap Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dengan cara pemahaman mereka masing-masing. Tujuan tertinggi penghayatan kebatinan mereka adalah untuk mencapai kesatuan dan keselarasan mereka dengan Pribadi Tertinggi (Tuhan). Oleh sebab itu para penganut kebatinan berusaha mencapai tujuan utamanya, yaitu menyatu dengan Tuhan, dengan cara menyelaraskan hati dan jiwa mereka dengan Tuhan, melalui olah batin, laku rohani dan keprihatinan, menjauhi kenikmatan hidup keduniawian, dan menyelaraskan jalan hidup mereka dengan sifat-sifat dan kehendak Tuhan.

Dengan laku kebatinan manusia diajak mendekatkan diri kepada Tuhan, menyelaraskan sifat-sifat manusia dengan sifat-sifat Tuhan, bersandar dan menyelaraskan diri dengan kuasa Tuhan, dan diajak untuk melepaskan diri dari belenggu duniawi, melepaskan sifat-sifat tamak dan serakah pada kepemilikan duniawi yang dapat mengotori kesucian hati dan batin manusia. Ajaran ini didasarkan pada tujuan kepercayaan untuk kembali kepada kemurnian jati diri dan sifat-sifat sejati manusia sesuai kehendak Tuhan, supaya nantinya setelah selesainya kehidupan manusia di dunia, manusia dapat kembali dan menyatu dengan Tuhan.

Di dalam pemahaman kebatinan dan spiritual yang tinggi, pemahaman kebatinan mereka akan sampai pada pemahaman yang dalam tentang Tuhan dan pemahaman yang dalam tentang sifat-sifat dan jati diri manusia yang sejati. Puncak-puncak kebatinan ketuhanan tersebut seringkali diwujudkan dengan nama-nama ajaran kebatinan yang berbeda-beda walaupun isi ajarannya serupa, seperti ajaran Kasampurnan (kesempurnaan), Manunggaling Kawula Lan Gusti, Sukma Sejati, Guru Sejati, Sangkan Paraning Dumadi (hakekat / kesejatian manusia), dsb.

Nama-nama ajaran kebatinan di atas adalah konsep-konsep dasar dalam ajaran penghayatan kerohanian kejawen dan diajarkan dalam banyak aliran kepercayaan kebatinan di Jawa dengan istilah dan penamaan sendiri-sendiri yang walaupun "isi" ajarannya sama dan sejalan, tetapi menggunakan nama-nama ajaran yang berbeda-beda. Konsep-konsep kebatinan yang sama juga diajarkan di banyak tempat, terutama di daerah India dan sekitarnya, penggunaan istilah dan namanya saja yang berbeda-beda.

Orang-orang yang mendalami kebatinan di atas menemukan suatu kekuatan yang tumbuh di dalam diri mereka, yaitu kekuatan Sukma Sejati , roh agung yang diciptakan Tuhan dalam pribadi manusia. Mereka merasakan adanya suatu energi yang menyelimuti tubuh mereka, suatu kekuatan yang rasanya mirip seperti tenaga dalam, tetapi jauh lebih kuat daripada tenaga dalam, membuat tubuh terasa "tebal" berselimut energi, dan energi ini bukan hanya mengisi tubuh, mengisi badan, tangan dan kaki, tetapi juga mengisi hati menjadikan kehendak batin dan ucapan-ucapannya jadi ! saking kersaning Allah. Kekuatan ini tidak dapat dipelajari dengan cara latihan fisik ataupun olah nafas. Kekuatan ini terbangkitkan ketika seseorang mesu raga, mengesampingkan kekuatan biologis dan hasrat keduniawian. Kekuatan ini berasal dari jiwanya yang paling dalam, dari sukmanya, dari jiwa yang menyembah Tuhan.

Awalnya kekuatan ini tidak bisa dikendalikan dengan pikiran, hanya dibiarkan saja mengalir mengisi tubuh, tetapi kemudian bisa dikendalikan secara batin. Kekuatan ini jelas bukan bagian dari kekuatan fisik, tenaga dalam atau pun khodam, karena kekuatan ini adalah kekuatan sukma seseorang. Kekuatan ini terkendalikan dengan menyatukannya dengan kehendak dan niat batin, merasuk menyatu dengan hati, menjadi kekuatan dan kegaiban sukma.

Sesuai tingkat kedalaman pemahaman dan keyakinan pada kesejatian diri dan pencapaian kekuatan kebatinan masing-masing penganutnya, kesatuan roh pancer dan sedulur papat sebagai Sukma Sejati seseorang akan mampu meniadakan roh-roh dan pribadi lain dalam diri seseorang, menjadi perisainya dari serangan roh-roh lain dan menempatkan dirinya tidak di bawah pengaruh atau kuasa roh-roh duniawi lain, bahkan roh-roh gaib kelas atas seperti dewa dan buto pun tidak berani datang mendekat untuk maksud menyerang. Bahkan banyak di antara mereka yang selain mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, juga mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati, walaupun sudah berhari-hari mati (yang belum waktunya mati).

Ketika kekuatan ini sudah menyatu merasuk dalam diri seseorang, maka dengan kekuatan niat batin dan kehendaknya seseorang bisa menjadikan suatu kejadian gaib hanya dengan mengkonsentrasikan batinnya saja, tanpa perlu amalan gaib atau aji-aji dan khodam, sekti tanpo aji ! Kegaiban seorang yang linuwih dan waskita. Dan semua perkataannya jadi ! saking kersaning Allah. Dan ketika kekuatan ini menyatu dengan kesaktian fisiknya, sulit orang menandinginya, karena kesaktiannya menjadi berlipat-lipat ganda kekuatannya setelah dilambari dengan kekuatan sukmanya dan dirinya sendiri diliputi oleh suatu kegaiban yang tidak dapat ditembus oleh ilmu gaib dan tenaga dalam. Sekalipun seseorang tidak memiliki ilmu kesaktian kanuragan, tetapi kekuatan fisiknya akan menjadi jauh lebih kuat ketika dilambari dengan kekuatan sukmanya, suatu kekuatan yang jelas tidak semata-mata berasal dari kekuatan fisiknya saja. Selain diri mereka sendiri diliputi oleh suatu kegaiban yang tidak dapat ditembus oleh ilmu gaib dan tenaga dalam, kegaiban mereka pun dapat menenggelamkan (menghapuskan) keampuhan ilmu gaib dan ilmu khodam (ilmu sihir dan guna-guna) dan berbagai macam bentuk serangan gaib.

Kemampuan kegaiban tersebut di atas memang tidak mudah mendapatkannya. Seseorang harus menempa dirinya, mesu raga penuh keprihatinan untuk menempa batin dan sukmanya (puasa hati dan batin). Laku puasanya pun berbeda dengan puasa yang biasa dilakukan orang kebanyakan. Jenis puasanya adalah yang disebut puasa ngebleng. Puasa ngebleng banyak dilakukan oleh orang-orang yang bergelut dalam dunia kebatinan / spiritual dan tapa brata. Kegaiban dalam puasa ngebleng tidak dapat disamakan dengan puasa bentuk lain. Puasa ngebleng terkait dengan kekuatan niat batin dan kegaiban sukma manusia. Semakin gentur laku puasa seseorang, semakin kuat sukmanya dan semakin kuat kegaibannya (baca : Laku Prihatin dan Tirakat).

Orang-orang yang menekuni dan mendalami kebatinan ini memiliki kegaiban dan kekuatan sukma yang tinggi, yang berasal dari keselarasan batin dan sukmanya dengan ke-maha-kuasa-an Tuhan, menjadikannya memiliki kegaiban tinggi, dan menjadikannya orang-orang yang linuwih dan waskita. Mereka membentuk pribadi dan sukma yang selaras dengan keillahian Tuhan, membebaskan diri dari belenggu keduniawian. Berpuasa dan berprihatin tidak makan dan minum berhari-hari bukanlah beban berat bagi mereka, melepaskan keterikatan roh dari tubuh biologis mereka, melolos sukma, bukanlah sesuatu yang istimewa. Bahkan banyak di antara mereka yang kemudian moksa, bersama raganya berpindah dari alam manusia ke alam roh tanpa terlebih dulu mengalami kematian.

Pada orang-orang yang tekun mendalami kebatinan / spiritual dan tapa brata, peka rasa dan batin, weruh sak durunge winarah, secara batin melihat gaib dan terawangan gaib, melolos sukma, medhar sukma, dsb, biasanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kemampuan gaib mereka, merupakan suatu kemampuan yang menyatu dalam diri mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita. Biasanya kemampuan atas ilmu-ilmu tersebut tidak secara khusus dipelajari, tetapi terjadi dengan sendirinya sebagai efek dari ketekunan penghayatan kebatinan / spiritual, gentur-nya laku prihatin dan tapa brata mereka.

Selain menjadi mumpuni dalam kesaktian fisik, kegaiban sukma mereka juga menjadikan mereka mengerti dunia kegaiban tingkat tinggi, mahluk-mahluk halus tingkat tinggi, dewa dan wahyu dewa, dan weruh sak durunge winarah, dan kekuatan gaib sukma mereka menjadikan mereka berkuasa di alam gaib, mengalahkan kekuasaan roh-roh dan mahluk halus tingkat tinggi sekalipun, dan kegaiban sukma mereka menjadikan mereka berkuasa menciptakan kegaiban-kegaiban, tanpa perlu mantra, amalan gaib, aji-aji dan khodam.

Orang-orang yang menekuni kebatinan dan spiritual, terutama kebatinan yang bersifat kesejatian diri, akan mengandalkan kekuatan dari dirinya sendiri, bukan dari gaib lain, sehingga mereka akan menempa diri untuk bisa memiliki kekuatan dengan kemampuan sendiri, menyandarkan dan menyelaraskan kebatinannya dengan penghayatan ke-maha-kuasa-an Tuhan, dan seringkali kekuatan keilmuan mereka menjadi jauh di atas kekuatan ilmu-ilmu gaib dan khodam kebanyakan orang yang menyelaraskan diri dengan kegaiban roh-roh duniawi.

Orang-orang yang menekuni kebatinan, perhatian kebatinan mereka lebih ditujukan "ke dalam" (ke dalam batin sendiri), berupa penghayatan kebatinan yang juga menyentuh relung batinnya yang paling dalam, jiwanya, sukmanya, sehingga proses laku mereka "membangunkan" inner power, yaitu kekuatan dari batin, jiwa, sukma, yang setelah dijalani dengan olah laku kebatinan menjadikan kekuatan sukma dan kebatinan mereka tinggi. Dan kekuatan kegaiban sukma pada diri mereka jelas berbeda dibandingkan orang-orang lain yang tidak menekuni kebatinan.

Banyak orang yang benar mendalami penghayatan kebatinan, seperti mengikuti aliran-aliran kebatinan kejawen yang mengajarkan kesejatian manusia, dalam dirinya terkandung kegaiban yang ketika pasrah menerima dirinya diserang dan dianiaya, justru dirinya menjadi tidak dapat diserang dan tidak dapat dikenai pukulan, dan bila berniat memberi pelajaran kepada penyerangnya, orang itu hanya perlu mengkonsentrasikan kegaiban sukmanya saja bahwa ketika seseorang menyerangnya, menyentuhnya, maka penyerangnya itu akan kehilangan kekuatannya, kehilangan ilmunya, diam mematung tak dapat bergerak, lumpuh tak dapat berdiri. Kegaiban sukma mereka memusnahkan keampuhan ilmu gaib dan ilmu khodam (ilmu sihir dan guna-guna) dan berbagai macam bentuk serangan gaib.

Seseorang yang sudah sedemikian itu, yang sadar dirinya sudah seperti itu, maka istilah-istilah sekti tanpo aji, digdaya tanpa japa mantra, ngluruk tanpa bala, suro diro jaya ningrat lebur dening pangastuti, menang tanpo ngasorake, dsb, bukan lagi menjadi slogan-slogan filosofis kebatinan saja, tetapi sudah menyatu dengan kepribadian dan diterapkan dalam kehidupan mereka yang harus senantiasa selaras dengan ke-maha-kuasa-an Tuhan. Segala bentuk kekuatan jahat dan kesombongan akan luluh dan tunduk oleh perbawa pengayoman, kebaikan dan kerendahan hati.

 

Kekuatan Rasa dan Sugesti

Di dalam semua jenis keilmuan dan aktivitas manusia, ada satu hal mendasar yang seringkali pengertiannya dikesampingkan orang, yaitu adanya unsur kebatinan. Unsur kebatinan hadir pada semua aspek kehidupan manusia, bukan hanya dalam mempelajari dan menekuni berbagai jenis keilmuan batin, tetapi juga dalam semua aktivitas keseharian dan pekerjaan teknis modern. Unsur kebatinan itu adalah apa yang biasa disebut sebagai penjiwaan atau penghayatan, yang sangat erat hubungannya dengan rasa dan sugesti.

Di dalam aktivitas manusia berolah raga, kanuragan, mengolah tenaga dalam, maupun ilmu gaib dan ilmu khodam, atau olah spiritual, bahkan dalam berkeagamaan / berketuhanan atau dalam menjalankan aktivitas kehidupan modern yang menggunakan alat-alat canggih dan modern ataupun dalam mempelajari keilmuan modern seperti ilmu kimia dan fisika ataupun ilmu teknik dan sistem komputer, selalu terkandung di dalamnya unsur kebatinan berupa penjiwaan dan penghayatan pada masing-masing hal yang dijalani, yang seringkali kualitas penjiwaan dan penghayatan itu akan sangat membedakan hasil dan prestasi yang diraih seseorang dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Secara umum unsur kebatinan hadir pada semua aspek kehidupan manusia, tidak hanya dalam hal keilmuan, tetapi dalam semua aspek kehidupan manusia, termasuk di jaman modern ini, tetapi istilah kebatinan sendiri seringkali secara dangkal dikonotasikan sebagai kegiatan klenik. Namun di luar itu memang ada orang-orang tertentu yang secara khusus mempelajari keilmuan kebatinan, bukan hanya pada aspek yang bersifat umum, tetapi juga secara khusus dan mendalam mengenai keilmuan kebatinan itu sendiri.

Ilmu Tenaga Dalam, Kebatinan dan Spiritual, sejatinya menggunakan potensi kekuatan dari diri sendiri, yaitu kekuatan tenaga dalam, kekuatan sukma dan kekuatan spiritual dari diri sendiri. Ilmu yang mendayagunakan potensi kekuatan diri sendiri inilah yang disebut ilmu sejati.

Sejatinya kesempurnaan penguasaan ilmu seseorang ada pada menyatunya suatu ilmu dengan diri seseorang. Artinya, untuk mengetrapkan suatu ilmu, dengan telah menyatunya suatu ilmu dengan diri seseorang, orang tersebut bisa melakukannya secara spontan, atau cukup dengan kehendak dan konsentrasi batinnya saja untuk mewujudkannya, dan bisa dilakukan kapan saja. Dengan demikian orang tersebut bisa dikatakan sudah sempurna menguasai suatu ilmu, bukan sekedar memiliki koleksi ilmu, karena ilmu-ilmu tersebut sudah merasuk, menyatu dengan dirinya, tinggal niatnya saja untuk mengetrapkannya. Dengan telah menyatunya suatu ilmu dengan seseorang, maka orang itu bisa kapan saja mengetrapkannya, dan keilmuannya itu tidak akan hilang hanya karena lupa dengan bunyi mantranya, atau karena hilang khodam ilmunya, atau karena lupa membawa jimat dan pusaka.

Menyatunya ilmu itu akan menjadi suatu perbawa yang bisa dirasakan oleh orang lain yang juga berilmu atau peka batinnya, sehingga masing-masing akan saling menghormati dan menjaga jarak. Dan dengan kepekaan rasa seseorang akan dapat mengukur kekuatan dirinya sendiri ketika sedang berhadapan dengan orang lain atau ketika sedang berhadapan dengan kekuatan suatu mahluk halus.

Karena itu dalam filosofi Jawa dikatakan ilmu tertinggi manusia adalah digdoyo tanpo aji, digdaya tanpa perlu tambahan jimat / khodam dan mantra dan tidak harus menunjukkan ilmu kesaktian yang kelihatan mata, karena semua kekuatan bersumber dari dirinya sendiri dan dengan perbawa kebatinan, menang tanpa harus mengalahkan atau unjuk kesaktian. Seandainya pun terpaksa harus mengetrapkan ilmunya, dengan kekuatan kebatinannya seseorang hanya perlu mengkonsentrasikan suatu kejadian, atau mengkonsentrasikan kemauan terlaksananya suatu perbuatan gaib, tanpa harus bergantung pada suatu bentuk amalan ilmu atau mantra, khodam jimat atau pusaka.
Orang-orang yang menekuni suatu kebatinan tertentu biasanya memiliki batin yang peka, kuat dan tajam, dan memiliki kedekatan dengan roh sedulur papatnya, sehingga orang-orang tersebut dapat mengerti tentang kegaiban, rasa dan firasat. Kepekaan dan ketajaman batin mereka bersifat umum dalam segala bidang, tidak semata-mata dimaksudkan untuk ilmu gaib ataupun melihat gaib.

Kepekaan dan ketajaman batin mereka biasanya bukan hanya peka untuk melihat tanda-tanda alam beserta kegaiban di dalamnya, tetapi juga dapat untuk mendeteksi keberadaan sosok mahluk gaib, peka dalam menilai kepribadian orang lain, peka rasa tentang kejadian yang akan terjadi (weruh sak durunge winarah) dan sering mendapatkan ilham / wangsit tentang suatu kejadian tertentu yang akan terjadi. Kepekaan dan ketajaman batin itu juga dapat untuk mengetahui kegaiban tingkat tinggi, tergantung pencapaian masing-masing orang. Bukan sekedar untuk melihat gaib, kekuatan batinnya juga dapat digunakan untuk mengusir roh-roh halus atau untuk menjadikan suatu kejadian gaib.

Kekuatan dari olah kebatinan ini dapat dilakukan untuk tujuan perbuatan yang sama dengan penggunaan tenaga dalam atau ilmu gaib dan ilmu khodam. Dengan kekuatan kebatinan dan sugesti mereka mewujudkan kehendak-kehendaknya, dengan kepekaan dan ketajaman rasa mereka juga dapat mengukur apakah kekuatan mereka sendiri cukup untuk mewujudkan suatu kejadian yang mereka kehendaki.

Pada orang-orang yang mendalami kebatinan, kepekaan / ketajaman rasa dan kekuatan kebatinan akan dapat dirasakan di dada sebagai suatu getaran atau tekanan di dada yang dapat disalurkan menjadi kekuatan tangan dan tubuh atau kekuatan kata-kata. Seseorang yang tajam batinnya juga dapat mengukur apakah kekuatan sukmanya cukup untuk mewujudkan kehendak terjadinya suatu perbuatan gaib, atau untuk mengukur apakah kekuatan batinnya dan keilmuannya lebih tinggi ataukah lebih rendah ketika sedang berhadapan dengan seseorang atau ketika sedang berhadapan dengan mahluk halus tertentu.

Secara alami, kekuatan sukma akan dirasakan sebagai kekuatan energi yang besar berupa getaran rasa dan tekanan rasa di dada, dan sebagai kekuatan yang menyelimuti tubuh, merasuk sampai ke hati, dan tergantung pada tingkat penguasaan masing-masing orang, selain melalui amalan kebatinan, kekuatan sukma dapat diwujudkan menjadi kekuatan tangan dan tubuh, kekuatan kehendak perbuatan dan kata-kata, dan getaran perbawa kebatinannya juga akan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya (kecuali orang tersebut merendahkan hati dan menutupi / menyembunyikan kekuatan kebatinannya).

Tergantung pada kekuatan kebatinan dan tingkat penguasaan masing-masing orang, ketika kekuatan rasa dan sugesti sudah menyatu dengan kekuatan fisik, seseorang dapat memecahkan batu, mematahkan kayu atau besi. Kekuatan kebatinan ini juga bisa digunakan untuk menguatkan tubuh dan kebal senjata tajam, untuk menggerakkan tubuh dan batin / pikiran seseorang (gendam / hipnotis / ilmu sugesti) dan bisa diwujudkan menjadi seperti ilmu sihir. Tergantung pada kekuatan kegaiban sukma masing-masing pelakunya, kekuatan gaib dari kebatinan akan bisa jauh melebihi kekuatan tenaga dalam, kekuatan ilmu gaib dan ilmu khodam, ataupun kekuatan susuk dan jimat. Pada tingkatan keilmuan yang tinggi dalam olah kanuragan, kekuatan kebatinan dapat menggantikan kekuatan tenaga dalam.

(Hati-hati bagi yang menggunakan kekuatan kebatinan untuk kekebalan. Kekuatan kebatinan yang berhasil digunakan untuk kekebalan kekuatannya jauh melebihi kekuatan ilmu gaib dan ilmu khodam, ataupun susuk dan jimat kebal, sehingga dapat menyebabkan seseorang yang sudah meninggal jasadnya tidak dapat hancur dan membusuk seperti layaknya jasad manusia pada umumnya dan rohnya sendiri tidak dapat lepas keluar dari tubuhnya, terkunci di dalamnya. Jasad dengan roh di dalamnya tersebut akan menjadi mumi dan beratus-ratus tahun kemudian akan dapat menjadi yang sekarang disebut jenglot atau batara karang. Lebih baik bila kekuatan kebatinan itu dijadikan ilmu lembu sekilan saja, yaitu ilmu kekuatan dan pertahanan tubuh dengan memadatkan kekuatan kebatinan / sukma / tenaga dalam mengisi tubuhnya hingga setebal sejengkal dari tubuh, selain menjadikan tubuh berkekuatan besar, juga akan menjadi perisainya dari adanya serangan gaib, pukulan ataupun senjata tajam).

Ketika lambaran kekuatan kebatinan digunakan untuk membentak orang lain, itu akan membuat orang lain itu menjadi sangat ketakutan. Bentakan kemarahan yang dilambari dengan kekuatan sukma akan sangat berbeda pengaruhnya, karena akan menjadi serupa seperti pengaruh aji senggoro macan atau aji gelap ngampar atau aji gelap saketi, yang membuat orang lain luar biasa ketakutan, walaupun orang lain itu berbadan besar.

Kekuatan batin / sukma bisa juga digunakan untuk membuat pagaran gaib atau untuk pembersihan gaib, cukup dengan bersugesti mengeluarkan energi untuk membuat bola pagaran gaib saja atau memancarkan energi gaib untuk mengusir roh-roh halus. Kekuatan gaib dari kebatinan ini jauh lebih tinggi dibandingkan tenaga dalam, sehingga bukan hanya dapat untuk menghadapi mahluk gaib kelas bawah saja, tetapi juga untuk menghadapi yang kelas atas.

Untuk mengusir mahluk halus dari dalam suatu rumah / pohon misalnya, bila kita sudah terbiasa olah rasa dan batin, kita akan dapat mengukur apakah kekuatan kebatinan kita lebih tinggi ataukah lebih rendah dibandingkan kekuatan gaib para mahluk halus yang ada di rumah / pohon tersebut.

Bila kekuatan kebatinan kita lebih rendah, akan bijaksana bila kita tidak memaksakan kekuatan untuk mengusir mereka. Lebih baik bila kita memberi sesaji untuk "merayu" mereka supaya mau pindah. Tetapi bila kekuatan kebatinan kita jauh di atas mereka, dengan menyalurkan kekuatan kebatinan, dengan menekan rasa di dada, tepuk saja beberapa kali rumah / pohon tempat mereka tinggal dengan niat menyuruh mereka pergi (seperti mengusir burung di pohon). Lebih bijaksana bila mereka kita arahkan untuk pergi ke tempat tertentu yang jauh dari permukiman manusia, supaya tidak bubar begitu saja dan malah akan mengganggu orang lain yang tidak tahu-menahu.

Untuk membantu kerejekian dalam perdagangan (penglaris dagangan) dengan cara kebatinan cukup dilakukan dengan mengsugesti sukma untuk menciptakan suasana gaib yang teduh dan menyenangkan bagi banyak orang, yang menyebabkan orang-orang suka datang, mengobrol dan berbelanja. Suasana gaib itu disugestikan memancar dalam radius 5 meter, 10 meter, 100 meter, dsb (seperti penggunaan tenaga dalam murni).
Atau ketika kita ingin menyembuhkan seseorang dari sakitnya, maka kita mewujudkan kehendak kita, niat batin menyembuhkan, supaya orang itu sembuh dari sakitnya, dengan cara mengkonsentrasikan kekuatan sukma kita ke dalam segelas air, si sakit diberi sugesti untuk sembuh dengan meminum air putih yang kita berikan. Di sisi lain kita mengkonsentrasikan batin tertuju kepada si sakit untuk menyingkirkan semua sakit-penyakit orang tersebut, maka orang itu akan dapat benar sembuh (atau dilakukan langsung dengan menumpangkan tangan kita di atas bagian tubuhnya yang sakit).

Dengan cara itu kita memberikan sugesti kepercayaan supaya si sakit membangkitkan sugesti energi positif dalam dirinya untuk kesembuhannya sendiri. Di sisi lain kekuatan sukma kita dikonsentrasikan kepadanya untuk membersihkan energi-energi penyakit di dalam dirinya, termasuk energi negatif yang berasal dari mahluk halus di dalam tubuhnya, jika ada. Dengan kepekaan batin kita dapat mengukur kekuatan yang dibutuhkan untuk pengobatan tersebut, sehingga kita tahu bahwa proses penyembuhan tersebut cukup sekali saja atau harus dilakukan beberapa kali bila memang diperlukan.

Cara penyembuhan dengan memberikan air putih di atas biasanya dilakukan untuk sakit-penyakit yang kadarnya ringan. Untuk yang kadarnya berat biasanya dilakukan langsung dengan menumpangkan tangan di atas bagian tubuh yang sakit untuk langsung memberikan energi positif untuk kesembuhan si sakit, ditambah dengan ramuan-ramuan dan obat-obatan, jika diperlukan.

Cara memberi air putih seperti di atas juga banyak dilakukan oleh orang-orang yang mempelajari ilmu gaib dan ilmu khodam. Tetapi banyak kejadian, dengan cara meminumkan air putih tersebut ternyata si sakit tidak berhasil disembuhkan. Ini terjadi karena si penyembuh tidak dapat mengsugesti si sakit. Walaupun memiliki ilmu gaib, tetapi tidak memiliki kepekaan batin yang cukup untuk dapat mengukur kekuatan yang cukup yang dibutuhkan untuk dapat menyembuhkan si sakit. Dan bila penyebab sakit orang tersebut adalah karena perbuatan mahluk halus, seringkali si penyembuh malah menjadi celaka karena mahluk halusnya berbalik menyerang si penyembuh.

Ketika langit sedang dalam kondisi mendung tebal dan hujan kita dapat meredakan hujan dan membubarkan konsentrasi mengumpulnya awan dengan sugesti kekuatan rasa yang dilandasi dengan kekuatan kebatinan (ditambah visualisasi / olah pikiran). Dengan menekan rasa di dada kita visualisasikan mengeluarkan segulungan energi yang besar yang mendorong awan-awan ke belakang dan ke samping kiri-kanan, sehingga kemudian konsentrasi awan itu menjadi berkurang dan hujannya mereda. Atau dengan kekuatan rasa di pikiran kita melubangi awan atau menyapunya ke samping.

Rahasia kekuatan rasa adalah adanya penyatuan kekuatan roh sedulur papat dengan roh pancer kita (secara satu kesatuan menjadi kekuatan sukma). Dengan bersugesti menggunakan kekuatan rasa itu berarti kita sudah menyatukan kekuatan roh sedulur papat dan pancer kita, menjadi satu kesatuan kekuatan sukma, sehingga menjadi satu kesatuan perbuatan yang mempunyai efek kegaiban tersendiri, yang hasilnya akan berbeda dibanding hanya menggunakan kekuatan fisik saja walaupun dilakukan sepenuh tenaga.

Kekuatan rasa adalah dasar dari kekuatan kebatinan.

Contoh-contoh di atas adalah contoh-contoh penggunaan sugesti kekuatan rasa dan batin pada tingkatan dasar yang pada tingkatan kemampuan kebatinan yang tinggi (dengan olah kebatinan) kekuatan rasa ini dapat digunakan untuk segala perbuatan yang berhubungan dengan kegaiban, untuk menyembuhkan / mengusir sakit / penyakit seseorang, mengusir / menyerang / menundukkan / menangkap mahluk halus tingkat rendah sampai yang kelas atas, untuk mempengaruhi / mengendalikan pikiran seseorang ataupun mahluk halus, untuk memusnahkan keilmuan gaib, khodam dan tenaga dalam seseorang, dan untuk mendatangkan ide / ilham dan wangsit dan pengetahuan spiritual tingkat tinggi yang mengantarkan seseorang menjadi linuwih dan waskita.

Kekuatan rasa adalah bagian dari kegaiban sukma manusia.

Contoh-contoh di atas adalah contoh-contoh penggunaan sugesti kekuatan rasa dan batin yang disengaja. Pada saat yang lain ketika orang sudah terbiasa menggunakan kekuatan kebatinan / spiritualnya kekuatan rasa itu akan mengalir sendiri menjadi semacam ide dan ilham untuk si manusia melakukannya, menjadi semacam tuntunan untuk berbuat.

Contoh-contoh bentuk penggunaan sugesti di atas dapat juga dilakukan dengan sugesti ilmu gaib dan khodam, yaitu dengan merapal mantra ilmu gaib dan ilmu khodam atau dengan memerintahkan khodam seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang sama dengan di atas.

Kelebihan ilmu gaib dan ilmu khodam memang adalah pada banyaknya variasi dalam keilmuan gaib mereka (banyaknya variasi amalan gaib dan mantra) dan hasilnya bisa langsung dipraktekkan dan dipertunjukkan, karena tujuan mereka berilmu memang untuk keberhasilannya menguasai dan mempraktekkan berbagai macam keilmuan gaib / khodam. Walaupun ilmunya tampak ampuh, tetapi biasanya kekuatan ilmunya lebih rendah daripada ilmu kebatinan, karena tidak dilandasi dengan kekuatan sukma dan kebatinan yang tinggi, hanya mengandalkan kekuatan khodamnya saja dengan menghapalkan dan mewirid mantra / amalan ilmu gaib dan mantra / amalan ilmu khodam saja.

Selain keilmuan yang bersifat kebatinan dan praktek ilmu gaib dan ilmu khodam, ada banyak bentuk lain keilmuan batin dan keilmuan gaib yang juga mengolah potensi diri, yang merupakan praktek ilmu sugesti, yang digandrungi orang dan dikembangkan dengan metode pembelajaran modern, sehingga tidak dianggap klenik dan bisa dipelajari oleh banyak orang.

Bentuk-bentuk keilmuan ini berfokus pada pemusatan kekuatan pikiran manusia dalam bentuknya seperti ilmu hipnotis (mempengaruhi / mengendalikan pikiran manusia), ilmu telekinetik (memindahkan / menggerakkan benda-benda dengan kekuatan rasa dan pikiran), ilmu telepati (komunikasi pikiran), illusionis (mengelabui penglihatan dan pikiran seseorang), dsb. Cakra tubuh yang bekerja adalah cakra di dahi dan sebagian cakra di ubun-ubun kepala. Ilmu-ilmu ini harus dipelajari dan dipraktekkan dengan sangat hati-hati. Pemusatan kekuatan pada pikiran saja atau memforsir penggunaan kekuatan cakra tubuh tertentu saja dapat berakibat terjadinya ketidak-seimbangan energi tubuh dan harus diperhatikan efeknya dalam jangka panjang.

Selain yang bersifat modern, ada juga keilmuan kebatinan / spiritual yang aslinya adalah ilmu tradisional yang sampai saat ini masih diajarkan orang seperti meditasi prana / chi / reiki / kundalini. Walaupun kebanyakan orang memandang ilmu-ilmu itu modern dan sejenis dengan keilmuan tenaga dalam, tapi sebenarnya itu adalah ajaran dan pelatihan olah sugesti kebatinan / spiritual tradisional, hanya saja diajarkan orang dengan cara-cara praktis masa sekarang. Yang membedakannya adalah bentuk energinya, metode pembelajarannya dan tujuan latihannya saja.

Ada salah satu ciri yang membedakan penggunaan tenaga dalam dengan kebatinan dalam mendeteksi keberadaan sesosok mahluk halus. Dengan menggunakan tenaga dalam, kita mendeteksi keberadaan sesosok mahluk halus dengan cara mendeteksi getaran / bentuk energinya. Tetapi umumnya cara ini sulit untuk bisa digunakan mendeteksi keberadaan mahluk halus yang kekuatan gaibnya tinggi dan yang berdimensi tinggi, karena umumnya energi mereka sangat halus, dan frekwensinya jauh lebih tinggi dibandingkan energi tenaga dalam.

Artinya, jika dengan cara kontak energi itu kita menggunakan tenaga dalam dari hasil kita latihan di perguruan tenaga dalam, umumnya itu hanya bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan gaib-gaib yang kekuatannya rendah dan yang berdimensi gaib rendah saja, tidak bisa digunakan untuk mendeteksi yang kekuatannya tinggi atau yang berdimensi gaib tinggi karena adanya banyak perbedaan pada frekwensi energinya. Jika hendak digunakan untuk tujuan mendeteksi mahluk halus yang kekuatannya tinggi atau yang berdimensi gaib tinggi energi tenaga dalamnya harus disesuaikan lebih dulu frekwensinya dengan frekwensi mahluk halusnya.

Sedangkan bila kita terbiasa dengan olah rasa dan batin, dari jarak yang jauh secara insting / rasa kita akan mengetahui apakah di suatu lokasi ada berpenghuni gaib atau tidak. Dan bila disitu ada sesosok mahluk gaib, apalagi si mahluk gaib mempunyai kekuatan yang besar, kita dapat merasakan kehadirannya secara otomatis, dari jarak yang lebih jauh sebelum muncul rasa merinding, karena dada kita akan terasa berat dan sesak seolah-olah ada yang menekan dada kita sampai kita merasa sulit bernafas. Artinya ada perbenturan kekuatan antara kekuatan energi yang terpancar dari keberadaan gaib itu dengan energi sukma kita, dan dari situ kita juga akan bisa mengukur kekuatan mahluk halus itu apakah lebih tinggi atau lebih rendah dari kekuatan kita dan secara otomatis kita juga dapat mengetahui posisi keberadaan sosok gaib tersebut.

Jika anda berminat untuk belajar "membangun" kekuatan rasa dan kekuatan kebatinan Penulis ada menuliskan banyak tips dan metode pembelajaran di banyak halaman seperti contoh dalam tulisan :

- Olah Rasa dan Kebatinan

- Olah Spiritual dan Kebatinan

- Sedulur Papat Kalima Pancer

- Kebatinan dalam Keagamaan

- Meditasi Energi

- Pembersihan Gaib 4

- Sukma Sejati

Sedapat mungkin semua kekuatan kebatinan dan energi yang berhasil dihimpun dapat kita olah menjadi kekuatan rasa dan kebatinan supaya menjadi satu kesatuan kemampuan dan bisa mempertinggi kekuatan sukma kita, menjadi kekuatan kita yang sejati, sedangkan adanya jimat dan pusaka, khodam, mantra-mantra, dsb, sifatnya adalah tambahan yang nantinya bisa kita tambahkan atau kurangkan sesuai kebutuhan kita.

Karakteristik Ilmu Kebatinan dan Ilmu Gaib / Khodam

Di dalam semua jenis ilmu, ada semacam penjurusan dalam pelajarannya, termasuk di dalam keilmuan kebatinan dan spiritual.

Yang pertama adalah aspek pengetahuan yang mengarah kepada aspek filosofi atau spiritual yang mendasari suatu keilmuan (yang menjadi ukuran kedalaman ilmu seseorang).

Yang kedua adalah ilmu-ilmu / kekuatan dari keilmuan itu sendiri (yang menjadi ukuran ketinggian ilmu seseorang).

Dalam laku mengolah kekuatan kebatinan dan sukma banyak dilakukan kegiatan-kegiatan yang panjang dan membosankan, seperti laku puasa (puasa mutih, ngrowot, ngebleng, pati geni), menyepi, laku prihatin dan tirakat, semadi / meditasi, tapa brata, pembacaan amalan / doa kebatinan, dsb. Seringkali laku-laku tersebut dianggap hanya sebagai keharusan / formalitas ilmu, dan tidak banyak orang yang dapat merasakan manfaatnya secara langsung, karena tidak banyak orang yang dapat mengukur kekuatan kebatinan yang telah dicapainya. Akibatnya, mereka yang mempelajari kebatinan, terutama kalangan muda, akan membelokkan perhatiannya untuk tidak menekuni olah kekuatan kebatinan, tetapi menekuni ilmu-ilmu kebatinan saja, seperti ilmu-ilmu untuk kekuatan / kesaktian (kanuragan), pengasihan, pelet, pelaris dagangan, pengobatan gaib, dsb. Pelajaran ilmu-ilmu itu memang lebih menyenangkan, dapat segera dilihat hasilnya, dan dapat dipraktekkan / dipertunjukkan kepada orang lain. Dengan demikian kemudian orang berbelok menjadi menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam saja, termasuk ilmu gaib yang berlatar belakangkan kebatinan atau agama dan tenaga dalam.

Tujuan dalam mempelajari ilmu gaib penekanannya adalah langsung pada hasil yang ingin dicapai, yaitu keberhasilan dalam menguasai dan mempraktekkan ilmu-ilmu gaib tertentu sesuai tujuannya berilmu, bukan untuk mengoptimalkan potensi diri atau mengolah kebatinan, juga dalam pembelajarannya tidak diperlukan filosofi-filosofi kebatinan untuk membentuk kerohanian / kebatinan pelakunya.

Dengan kata lain, ilmu gaib adalah jenis ilmu terapan, yaitu ilmu yang tujuan mempelajarinya adalah untuk langsung bisa mempraktekkan kegaiban, untuk langsung bisa melakukan perbuatan-perbuatan gaib, dengan mengamalkan mantra-mantra atau amalan gaib.

Jenis keilmuan ini tidak dijalani dengan laku kebatinan seperti yang dilakukan oleh orang-orang kebatinan, walaupun ada juga lakunya yang mirip, tapi tidak persis sama. Kebanyakan jenis keilmuan ini dilakukan orang sebagai jalan pintas untuk bisa cepat memiliki kemampuan gaib dan untuk bisa langsung mempraktekkannya, dengan hanya menghapalkan dan mewirid mantra / amalan gaib.

Karena tujuannya adalah bukan untuk mengolah potensi kebatinan dan laku yang dijalani juga tidak persis sama dengan laku kebatinan, maka jenis ilmu gaib dan ilmu khodam ini tidaklah sama dengan ilmu kebatinan. Kepekaan rasa dan batin, peka sasmita / wangsit, kekuatan kebatinan / spiritual, dsb, yang bisa mengantarkan seseorang menjadi mumpuni dalam hal kebatinan dan kegaiban, linuwih dan waskita, dan kekuatan sukma yang mampu berkuasa atas roh-roh gaib tanpa perlu bantuan khodam, tidak akan dicapai dengan menjalani keilmuan ini.

Dalam keilmuan gaib dan khodam ada juga mantra-mantra seperti dalam ilmu kebatinan yang terkait dengan pendayagunaan roh sedulur papat sebagai khodam bagi seseorang. Tetapi ilmu itu hanya akan bekerja jika sedulur papat seseorang sudah cukup kuat, sehingga bisa menjadi khodam baginya. Pada masa sekarang kondisi kuatnya sedulur papat itu, sekalipun seseorang mengikuti perkumpulan kebatinan, kelihatannya akan sulit dicapai, karena pembelajarannya dan orientasi pesertanya sudah banyak berubah, tidak lagi berorientasi pada laku memperkuat kebatinan, tetapi mengarah pada keinginan untuk menguasai ilmu gaib saja, yang di Jawa bisa mewujud dalam bentuk aliran ilmu gaib kejawen atau aliran Islam kejawen. Karena itu kegaiban yang kemudian bekerja bukanlah berasal dari sedulur papatnya, tetapi dari khodam yang dibekalkan kepada masing-masing pesertanya.

Pada jaman dulu orang mengikuti perkumpulan kebatinan seperti yang sekarang dikenal seperti Sapto Darmo, Pangestu, dsb, bukan semata-mata sebagai olah keilmuan kebatinan, tetapi merupakan laku ketuhanan, sehingga para peserta yang menekuninya bisa memiliki kebatinan yang kuat. Sedangkan pada masa sekarang orang sudah menganut agama sendiri-sendiri, sehingga kepengikutannya dalam perkumpulan-perkumpulan kejawen seperti itu tidak lagi ditekuni dengan semestinya, bukan lagi menjadi sarana laku ketuhanan, tetapi mengarah pada keinginan atas keilmuan gaib saja. Akibatnya para pesertanya tidak lagi memiliki kekuatan kebatinan yang tinggi seperti yang seharusnya.

Karena itu lakunya kemudian bukan lagi untuk olah kebatinan, tetapi mengarah pada keilmuan gaib saja, dan kekuatan gaibnya, walaupun juga ada menggunakan mantra-mantra sedulur papat, tetapi yang bekerja bukanlah sedulur papatnya, tetapi adalah khodam ilmu yang dibekalkan kepada masing-masing pesertanya.

Orang-orang yang menjalani ilmu gaib dan ilmu khodam juga bisa peka rasa dan mengerti kegaiban, dan mempunyai kekuatan gaib, tetapi kebanyakan kadarnya rendah, hanya akan sama dengan tingkatan dasar dalam olah kebatinan. Kelebihan utama ilmu gaib dan ilmu khodam adalah pada usaha yang lebih mudah dalam mempelajarinya, yaitu dengan hanya menghapalkan dan mewirid mantra / amalan ilmu gaib saja. Dalam tempo yang relatif singkat orang akan sudah bisa mempraktekkan kemampuannya dalam keilmuan gaib dengan hanya mengamalkan amalan dan mantra dan khodam ilmu yang dibekalkan kepada mereka.

Sebenarnya, ilmu gaib dan ilmu khodam adalah bagian dari ilmu kebatinan, yaitu bagian dari ilmu kebatinan yang menekankan pada kekuatan sugesti (disebut ilmu sugesti, yaitu praktek ilmu yang menekankan pada kemampuan bersugesti pada kekuatan pikiran, atau kekuatan mengsugesti amalan gaib dan mantra dan kekuatan mengsugesti khodamnya). Dalam mengamalkan ilmu-ilmu tersebut juga digunakan kekuatan / fokus batin untuk mengsugesti amalan-amalan gaib dan mantra dan untuk mengsugesti kegaiban khodamnya. Tetapi biasanya tujuan orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam adalah murni untuk keberhasilannya mempraktekkan keilmuan gaib, bukan dalam rangka olah laku kebatinan atau spiritual, walaupun berlatar belakangkan kebatinan atau agama.

Ada juga pada masa sekarang perguruan dan orang-orang yang mengajarkan ilmu persilatan dan keilmuan gaib. Sekalipun juga mengajarkan kerohanian / agama dan tenaga dalam, tapi tidak mengajarkan olah batin untuk mengolah kegaiban sukma. Dalam hal ini perguruan tersebut tidak termasuk sebagai aliran / perguruan kebatinan, tetapi tergolong sebagai perguruan silat saja, atau perguruan ilmu gaib dan ilmu khodam saja, walaupun berlatar belakangkan kebatinan atau agama dan tenaga dalam.

Tujuan utama orang-orang yang menekuni kebatinan adalah murni untuk laku kebatinan atau untuk kesaktian kanuragan, bukan untuk tujuan keilmuan gaib, tetapi kegaiban sukma mereka yang berasal dari penghayatan kebatinan itu juga bisa digunakan untuk tujuan keilmuan gaib. Di antara mereka juga ada yang berkecimpung di bidang keilmuan kesaktian. Mereka juga menekuni olah kanuragan, tenaga dalam, dsb, dan setelah kegaiban sukma mereka disatukan dalam keilmuan kesaktian mereka, menyebabkan kekuatan keilmuan mereka menjadi tinggi. Kekuatan keilmuan gaib pada orang-orang tersebut terutama adalah berasal dari kegaiban sukma mereka sendiri, ditambah dengan olah kanuragan, tenaga dalam, dan kekuatan sugesti ilmu gaib dan khodam.

Sedangkan tujuan orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam biasanya adalah murni untuk keberhasilan menguasai / mempraktekkan keilmuan gaibnya itu, bukan dalam rangka laku kebatinan dan spiritual. Dengan demikian ilmu gaib dan ilmu khodam ini bersifat ilmu terapan yang menekankan pada keberhasilan prakteknya. Sekalipun dalam pembelajarannya berlatar belakang kerohanian atau agama dan tenaga dalam, tetapi kekuatan keilmuan gaib mereka terutama hanya dari kekuatan sugesti mereka pada amalan gaib dan mantra dan kekuatan mereka mengsugesti kegaiban khodamnya.

Karena perbedaan-perbedaan dasar itulah maka dalam tulisan ini dilakukan pembedaan antara keilmuan yang berdasarkan kebatinan dan spiritual dan yang murni bersifat ilmu gaib dan ilmu khodam. Sekalipun dilakukan pembedaan, secara sepintas perbedaan ilmu gaib dan ilmu khodam dengan ilmu kebatinan akan kelihatan sangat tipis, karena semuanya berhubungan dengan kegaiban, dan karena di dalamnya juga ada mantra-mantra atau amalan-amalan gaib, puasa dan tirakat, maka pengertian dan istilah kebatinan, spiritual, ilmu gaib dan ilmu khodam, seringkali dianggap sama, walaupun sifat dasar keilmuannya berbeda.

Tetapi ada satu hal pokok yang menyebabkan keilmuan kebatinan berbeda dengan yang murni berupa ilmu gaib dan ilmu khodam, yaitu :

Pada orang-orang yang menekuni olah kebatinan, sugesti kebatinan mereka lebih ditujukan "ke dalam" (ke dalam batin sendiri), berupa penghayatan kebatinan yang juga menyentuh relung batin yang paling dalam, jiwanya, sukmanya, sehingga proses laku mereka "membangunkan" inner power, yaitu kekuatan dari batin, jiwa, sukma, yang setelah dijalani dengan olah kebatinan menjadikan kekuatan sukma dan kebatinan mereka tinggi. Dan kekuatan kegaiban sukma mereka jelas berbeda dibandingkan orang-orang lain yang tidak menekuni kebatinan.

Sedangkan orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam, sugesti kebatinan mereka lebih banyak ditujukan "ke luar", yaitu difokuskan untuk mengsugesti amalan-amalan dan mantra ilmu gaib dan mengsugesti kegaiban khodam mereka, sehingga tidak membangun apa yang ada "di dalam", yaitu kekuatan dari batin, jiwa, sukma. Walaupun proses laku mereka itu juga menambah kekuatan sukma mereka, tetapi tidak banyak.

Karena adanya perbedaan pokok di atas itulah, maka sekalipun para praktisi ilmu gaib dan ilmu khodam seringkali menyebut keilmuan mereka sebagai ilmu batin atau ilmu kebatinan, tetapi fakta-fakta di bawah ini akan membuktikan apakah keilmuan mereka benar merupakan ilmu batin / kebatinan.

Jika tidak mempunyai amalan ilmunya, atau tidak membacakan amalan ilmunya, atau lupa dengan amalan ilmunya, orang-orang yang menekuni kebatinan tetap dapat melakukan keilmuan gaib mereka dengan mengandalkan kemampuan mengsugesti kegaiban batin / sukma mereka (kekuatan niat dan kehendak), dan orang-orang yang menjalani keilmuan tenaga dalam tetap dapat menunjukkan kekuatan tenaga dalamnya.

Sedangkan para praktisi ilmu gaib, kekuatan ilmunya ada pada kekuatan mengsugesti amalan ilmu dan mantra, sehingga tanpa amalan ilmu atau lupa mantranya seringkali mereka tidak dapat berbuat apa-apa (apa yang harus disugestikan kalau tidak punya amalannya atau lupa bunyi mantranya).
Namun praktisi ilmu gaib berkhodam (dan yang mempunyai khodam ilmu / pendamping), tanpa amalan ilmunya atau lupa pada mantranya, kemampuan gaibnya akan tergantung pada khodamnya apakah khodamnya itu akan tetap berinisiatif bertindak walaupun tidak dibacakan amalan ilmunya. Jika khodamnya itu tidak berbuat apa-apa, maka mereka juga tidak mampu berbuat apa-apa.

Masing-masing amalan gaib dan mantra mempunyai sifat dan latar belakang sendiri-sendiri, apakah bersifat kebatinan ataukah hanya bersifat kekuatan mantra saja. Untuk lebih menjamin keampuhannya maka dalam mengamalkan sebuah amalan gaib kita harus bisa menentukan apakah harus murni menekankan kekuatan mengsugesti mantra / amalan gaib, ataukah harus dengan mengsugesti kebatinan kita sendiri (menggerakkan kekuatan kebatinan), ataukah amalan itu harus langsung ditujukan kepada khodam ilmu / pendamping.

Dalam mengamalkan suatu amalan gaib, minimal ada 2 macam pendekatan sugesti dalam melakukannya :

Yang pertama adalah sugesti ilmu gaib dan ilmu khodam.
Dengan model pendekatan ini sugestinya ditekankan pada bentuk dan bunyi amalan gaibnya, sehingga kalau amalan gaibnya salah, atau membacanya salah bunyinya, seringkali kegaibannya tidak bekerja, atau sekalipun ilmunya bekerja, biasanya tidak besar kegaibannya, apalagi kalau lupa mantranya.

Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam mendasarkan kekuatan ilmunya pada kemampuan mengsugesti amalan gaib dan mantra, sehingga dalam membacakan amalan gaibnya tidak boleh salah, dan tidak boleh lupa dengan bunyi mantranya (apa yang harus diwirid kalau lupa mantranya ? ).

(Karena fokusnya pada kemampuan mengsugesti amalan gaib, seringkali kegaiban yang terjadi tidak diketahui darimana asalnya, dari batinnya sendiri, dari khodam ilmu / pendamping, ataukah dari mahluk halus lain yang datang (juga tidak tahu mahluk halus yang datang itu apa, siapa, dan perwatakannya baik ataukah tidak). Yang dipentingkan adalah keampuhannya. Selama ilmunya itu bekerja, maka ilmunya itu dan khodamnya akan dikatakan ampuh, begitu juga sebaliknya, jika ilmunya tidak bekerja, maka ilmunya itu dan khodamnya akan dikatakan tidak ampuh).

Yang kedua adalah sugesti kebatinan.
Dengan model pendekatan ini sugestinya bersifat "ke dalam", yaitu ditujukan ke dalam batin sendiri, kepada sukmanya sendiri, atau langsung ditujukan kepada sosok-sosok gaib tertentu (khodam) yang menjadi tujuan amalan gaibnya. Dengan cara ini akan terjadi kontak rasa dan kontak batin antara kebatinannya dengan sosok-sosok tersebut, sehingga walaupun bunyi amalan gaibnya salah atau salah membaca amalannya, selama ia bisa bersugesti batin seperti itu, bisa kontak rasa dan batin, maka kegaibannya akan tetap bekerja, karena batinnya atau khodamnya mengerti maksud dan tujuan sugestinya.

Dengan sugesti kebatinan, walaupun lupa bunyi amalannya, kita tetap bisa menjalankan ilmunya dengan cara mengsugesti batin kita sendiri, atau sambat saja kepada khodam ilmu / pendamping.

(Dengan cara-cara kebatinan kita akan tahu sendiri kegaibannya berasal darimana, apakah berasal dari sukma kita sendiri (roh pancer dan sedulur papat), ataukah dari khodam ilmu / pendamping, khodam keris / jimat, atau dari mahluk halus lain. Jika berasal dari mahluk halus lain kita juga akan tahu apakah perwatakannya baik ataukah tidak).

Amalan keilmuan yang bersifat kebatinan sebaiknya kita lakukan dengan sugesti kebatinan untuk mengsugesti sukma kita (roh pancer dan sedulur papat) dan adanya kembangan-kembangan dalam amalan gaibnya akan memperkaya sugesti kebatinan kita.

Amalan keilmuan yang berbahasa arab dilakukan dengan sugesti ilmu gaib / khodam, tidak boleh salah membacanya, dan tidak boleh lupa bacaan amalannya.

Amalan keilmuan kejawen yang bekerjanya menggunakan khodam, dalam membacakan amalannya sebaiknya ditujukan langsung kepada khodamnya itu (atau kepada benda gaibnya).

 

Ilmu-ilmu dalam ilmu kebatinan dapat sama dengan ilmu-ilmu dalam ilmu gaib dan ilmu khodam. Bedanya adalah pada sumber kekuatan ilmunya. Kegaiban yang dihasilkan dalam ilmu kebatinan berasal dari kegaiban sukmanya, ditambah dengan amalan-amalan, doa dan mantra sebagai sugesti yang menghasilkan kegaiban ilmu-ilmu kebatinan. Seandainya pun mereka memiliki khodam pendamping atau khodam ilmu, keberadaannya hanya sebagai penambah kekuatan ilmunya, kegaiban yang utama tetap berasal dari kekuatan kebatinannya.

Sedangkan kegaiban dari ilmu gaib dan ilmu khodam terutama berasal dari kekuatan mengsugesti amalan-amalan, doa dan mantra, atau kekuatan mengsugesti kegaiban khodam ilmunya saja, bukan dari kekuatan kebatinannya dan tidak didasarkan pada olah batin / sukma.

Dalam mengamalkan suatu amalan ilmu, misalnya amalan ilmu untuk kekuatan, pada seseorang yang menganut ilmu kebatinan, setelah ilmu tersebut diturunkan kepadanya, dalam penggunaannya orang tersebut masih harus menghayati isi dan arti amalan tersebut untuk menyelaraskan / mengsugesti batinnya supaya sukmanya dapat melakukan apa yang tersugesti dalam amalan ilmu tersebut. Kekuatan ilmunya tergantung pada kekuatan sukmanya dan penghayatan / sugesti dirinya dalam mengamalkan ilmu tersebut.

Karena bersifat kebatinan, maka dalam mengamalkannya seseorang harus menghayati isi dan arti suatu amalan ilmu untuk menyelaraskan / mengsugesti batinnya supaya sukmanya dapat melakukannya sesuai yang tersugesti dalam amalan ilmu tersebut. Kekuatan ilmunya tergantung pada kekuatan sukmanya dan penghayatan / sugesti dirinya dalam mengamalkan ilmu tersebut. Jadi yang utama harus dimiliki adalah kekuatan sukma dan penghayatan dan kemampuan sugesti untuk menggerakkan sukmanya menjalankan ilmu tersebut. Ilmu itu akan bekerja sesuai penghayatan seseorang pada bentuk ilmunya, walaupun tidak hapal dengan bacaan mantra / amalan ilmunya. Dan sugesti ilmu itu perlu dilatih secara berkala supaya ketajaman / keselarasan sukmanya dengan ilmunya itu tidak melemah.

Salah satu kelebihan dalam olah kebatinan adalah adanya tahapan olah rasa dan sugesti, sehingga seseorang yang sudah menguasai ilmu rasa dan sugesti, maka dia akan dengan mudah mengsugesti batinnya, dan membentuk / menyelaraskan sukmanya sesuai penghayatan pada bentuk ilmunya, walaupun tidak hapal dengan bunyi mantranya. Dalam olah ilmu gaib dan ilmu khodam juga ada olah rasa, terutama ditujukan pada rasa ketika mengsugesti suatu amalan ilmu gaib.

Secara kebatinan, seseorang tidak membutuhkan banyak amalan ilmu, tidak perlu mengkoleksi banyak amalan ilmu, karena yang paling utama adalah kemampuan sugesti dan pemahaman / penghayatan pada suatu bentuk keilmuan, tidak harus hapal bunyi mantranya, tapi harus tahu isi / sifat bentuk dan tujuan keilmuannya. Dia juga akan dengan mudah menciptakan ilmu-ilmu baru sesuai pemahaman dari ilham yang didapatnya. Dan bila menemukan / menerima suatu amalan ilmu baru, dia akan dapat mengamalkannya sesuai kemampuannya mengsugesti sukmanya, walaupun tidak memiliki khodam ilmunya.

Untuk memperkuat keilmuannya, secara kebatinan orang tersebut harus memperdalam penghayatan dan menguatkan kekuatan kebatinannya dan meningkatkan kepekaan rasa dan kemampuan sugestinya pada bentuk-bentuk keilmuan. Kekuatan ilmunya akan sejalan dengan kemampuannya mengsugesti sukmanya untuk menyatu dalam penghayatan kebatinannya. Untuk maksud itu para penganut kebatinan akan banyak melakukan perenungan-perenungan, laku tirakat dan puasa, menyepi, semadi, bahkan tapa brata.

Amalan tersebut di atas (amalan ilmu yang sama), bila dilakukan oleh orang yang menganut ilmu gaib dan ilmu khodam, setelah ilmu tersebut diturunkan kepadanya, orang tersebut hanya perlu keyakinan / sugesti bahwa kapan saja ilmu itu diamalkan, ilmu itu akan bekerja. Orang tersebut tidak mengandalkan kekuatan sukmanya, karena yang bekerja adalah kekuatan sugesti pada amalan ilmu dan khodamnya, bukan sukmanya, dan tidak perlu tahu arti kalimat-kalimat dalam amalannya, hanya perlu menghapalkannya dan mengsugesti dirinya bahwa ilmu itu akan bekerja kapan saja amalannya diamalkan. Kekuatan ilmunya tergantung pada kekuatan (konsentrasi) sugestinya dan penyatuan dengan khodamnya. Dalam hal ini penerapan ilmu gaib dan ilmu khodam memiliki kelebihan kepraktisan dalam penggunaannya dibandingkan ilmu kebatinan, tetapi pada saat mempraktekkannya, orang tersebut harus hapal dengan bacaan mantra / amalan ilmunya, tidak boleh lupa.

Karena bersifat ilmu gaib dan ilmu khodam, mantra-mantra hanya akan bekerja dengan baik pada orang-orang yang mempunyai kekuatan sugesti pada amalannya dan yang telah menerima transfer energi / khodam ilmunya (diijazahkan). Bagi yang ingin belajar sendiri, belajar jarak jauh, dan belum mempunyai kekuatan sugesti pada amalannya, atau belum menerima khodam ilmunya / transfer energi, dengan usahanya sendiri membaca / mewirid suatu amalan ilmu biasanya tidak akan banyak berguna. Sekalipun ada kegaiban sesudahnya, biasanya tidak besar kekuatannya. Karena itu untuk keberhasilannya penganut ilmu gaib dan ilmu khodam akan banyak bergantung pada sosok guru yang memberi ilmu, dan untuk menambah keilmuannya orang-orang itu akan belajar kepada banyak guru dan akan mengkoleksi banyak amalan ilmu.

Contoh lain, misalnya ilmu pengasihan dan penglaris dagangan.

Pada orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam, mereka akan membacakan / mewirid amalan gaib untuk ilmu pengasihan dan penglaris dagangan itu. Kekuatan ilmunya bergantung pada kemampuan mereka mengsugesti amalan ilmu gaibnya atau mengsugesti kegaiban khodamnya untuk melaksanakan ilmu pengasihan dan penglaris dagangan (ditambah sesaji tertentu untuk khodamnya). Mereka harus hapal dengan bunyi mantranya (apa yang harus diwirid kalau tidak hapal bunyi mantranya ? ).

Pada orang-orang yang menekuni kebatinan, mereka tidak perlu hafal dengan bunyi mantranya (kalau tahu dan hafal mantranya akan lebih baik). Mereka hanya harus mengerti maksud ilmunya dan tahu cara kerjanya. Dengan demikian yang mereka lakukan adalah mengsugesti sukmanya untuk menciptakan suasana gaib yang teduh dan menyenangkan bagi banyak orang yang menyebabkan orang-orang suka kepadanya, suka datang ke tempat usahanya, mengobrol dan berbelanja. Suasana gaib itu disugestikan memancar dalam radius 5 meter, 10 meter, 100 meter, dsb (seperti penggunaan tenaga dalam murni).

Contoh lain.
Pengasihan atau kewibawaan, baik dengan cara ilmu gaib / khodam ataupun dengan cara kebatinan semuanya sifatnya sama, yaitu sebagai ilmu sugesti, bisa dilakukan secara kebatinan, bisa juga dengan amalan gaib.
Amalannya bisa diambilkan dari sumber mana saja asal fungsinya sesuai.
Tapi untuk anda pribadi sebaiknya dipilih yang berimbang.
Pengasihan yang terlalu kuat bisa membuat anda kehilangan kewibawaan.
Begitu juga sebaliknya, kewibawaan yang terlalu kuat bisa membuat anda tampak tidak punya rasa pengasihan.
Kalau anda punya bawahan (atau murid-murid jika anda menjadi seorang guru / dosen), selain pengasihan dan kewibawaan, sebaiknya dibentuk juga karakter kesepuhan yang bersifat mengayomi, sehingga anda akan dihormati juga sebagai orang yang dituakan.

Jika dilakukan dengan cara kebatinan, maka sugesti dan amalannya ditujukan ke dalam diri sendiri, ke dalam batin / sukma kita sendiri, dipilih yang isi sugestinya kita mengerti, untuk mengsugesti batin kita menjalankan isi sugesti yang kita inginkan.
Secara kebatinan sugestinya adalah untuk membentuk batin / sukma kita supaya berkarakter sama dengan yang kita sugestikan yang karakter itu akan bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita atau oleh orang yang kita tuju.
Kalau sudah menyimpan energi (energi potensial di tubuh), atau sukmanya sudah berkekuatan gaib, maka sugestinya dilakukan selain untuk membentuk karakter kita sendiri, juga untuk membentuk pancaran energi sukma kita yang sifatnya sama dengan isi sugesti kita, dan pancaran energinya bisa kita atur sendiri seberapa kekuatan pancarannya, seberapa kekuatan pengaruhnya, dan seberapa jauh pancarannya. Bisa juga kita atur kapan kita memancarkan pengasihan, kapan kita memancarkan kewibawaan / penundukkan, karena itu berhubungan juga dengan siapa kita berhadapan.

Dengan kata lain, secara kebatinan bentuk sugesti dan amalan itu berfungsi untuk membentuk karakter kita sendiri supaya kita menjadi berkarakter sama dengan isi sugestinya, karena kita sendiri yang harus bersifat pengasihan / kewibawaan yang sama dengan sugesti yang kita inginkan, atau untuk membentuk pancaran energi sukma kita supaya sifat pancarannya sama dengan sugesti yang kita inginkan.
Tapi kalau kita memancarkan energi, maka semakin lama semakin berkurang energi kita, sehingga nantinya energinya harus disi ulang.

Jika dilakukan dengan cara ilmu gaib / khodam, yang sugesti dan amalannya ditujukan langsung kepada khodamnya atau langsung kepada jimat kita, tidak harus dipilih yang isi sugestinya kita mengerti, karena yang menjalankannya adalah khodam kita, bukan kita sendiri.
Secara ilmu gaib / khodam, sugestinya adalah untuk memerintahkan khodam kita supaya ia memunculkan penampakan karakter kita yang sama dengan yang kita sugestikan, atau supaya ia memancarkan hawa energi yang sifatnya sama dengan yang kita sugestikan.
Dan untuk mengatur kapan kita pengasihan dan kapan kewibawaan / penundukkan, harus dibaca dulu amalannya. Jadi kita harus punya koleksi ilmu / amalannya.

Tujuan dari dilakukannya pembedaan antara ilmu-ilmu kebatinan dengan yang asli ilmu gaib dan ilmu khodam adalah supaya kita dapat dengan benar membedakan pengertiannya, mengetahui sisi spiritual keilmuannya, mengetahui masing-masing kelebihannya (untuk ditingkatkan) dan kekurangannya (untuk dilengkapi), dan untuk mengetahui cara-cara mengembangkannya atau untuk meningkatkan kualitas keilmuannya, sesuai jenis keilmuan masing-masing yang digeluti.

Kelebihan utama ilmu kebatinan dan spiritual terhadap yang murni sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam adalah pada kekuatan gaib batin dan sukma manusia yang biasanya jauh melebihi kekuatan gaib ilmu gaib dan ilmu khodam. Kegaiban batin dan sukma mereka juga menyebabkan mereka tidak bergantung pada adanya sosok khodam ilmu dan khodam pendamping, karena kegaiban batin dan sukma mereka sendiri sudah menjadi "khodam" bagi mereka (roh pancer dan sedulur papatnya bisa menjadi khodam bagi mereka).

Kelebihan lainnya adalah pada kekuatan batin dan kemampuan olah rasa dan sugesti (dan visualisasi) untuk menggerakkan kegaiban batin dan sukma mereka untuk melakukan banyak kegaiban seperti dalam ilmu-ilmu gaib dan khodam, tanpa perlu harus berlama-lama dan berlelah-lelah mewirid suatu amalan gaib.

Misalnya, sekalipun seorang praktisi ilmu kebatinan tidak membutuhkan adanya khodam gaib, tetapi jika memang dibutuhkan, dengan kekuatan kebatinannya, dan kekuatan rasa dan sugesti, dan kontak batin, mereka dapat menghadirkan sesosok khodam dengan seketika, tidak perlu berlama-lama dan berlelah-lelah mewirid amalan gaib hanya untuk mendatangkan sesosok gaib, atau hanya untuk mengisikan khodam gaib ke dalam sebuah benda jimat. Atau jika sudah mengetahui sosok gaib yang diinginkannya, dengan kekuatan kebatinannya dia dapat menariknya dengan seketika untuk menjadikannya khodamnya atau memasukkannya ke dalam benda gaibnya.

Begitu juga untuk melakukan pembersihan gaib, dengan kekuatan kebatinannya mereka hanya perlu bersugesti untuk membuat bola pagaran gaib dengan kekuatan tertentu atau memancarkan energi untuk mengusir roh-roh jahat, atau jika sudah mengetahui sosok gaib yang diinginkannya, dengan kekuatan kebatinannya dia dapat menariknya dengan seketika untuk menjadikannya khodam pembersihan gaib, tidak perlu berlama-lama dan berlelah-lelah mewirid amalan gaib hanya untuk pembersihan gaib atau untuk membuat pagaran gaib yang juga belum tentu bagus kekuatannya.

Khodam-khodam ilmu dan pendamping yang kekuatannya tinggi bagi para pelaku ilmu gaib akan terlalu rendah kekuatannya bagi yang benar menekuni kebatinan yang akan dapat dengan mudah mereka hapuskan keberadaannya. Dan untuk keperluan pembersihan gaib secara kebatinan orang akan bisa mengukur kekuatannya sendiri ketika berhadapan dengan sosok-sosok gaib tertentu. Jika seseorang sudah mempunyai kekuatan kebatinan yang cukup tinggi, melakukannya tidak perlu dengan bisa melihat gaib, cukup dengan cara kontak rasa untuk mendeteksi sasarannya (keberadaan gaibnya), kemudian memancarkan kekuatan kebatinan untuk mengusirnya.

Dalam hal kejadian di atas, para praktisi kebatinan dapat mengukur tingkat kekuatan gaib yang dibutuhkannya dan dapat menilai karakter sosok gaibnya. Misalnya dalam mengisikan khodam ke dalam benda gaib, para praktisi ilmu kebatinan biasanya dapat mengukur kekuatan khodamnya dan dapat menilai baik-tidaknya karakter sosok gaib tersebut, sedangkan para praktisi ilmu gaib seringkali malah tidak tahu apa dan siapa sosok gaib yang masuk ke dalam benda gaibnya itu, karena hanya mewirid amalannya saja.

Kelebihan lainnya adalah kombinasi dari kegaiban batin dan sukma mereka dan kemampuan olah rasa dan sugesti dapat mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita, mengerti kegaiban hidup dan kegaiban alam.
Sedangkan kelemahan utama ilmu kebatinan dan spiritual terhadap yang murni sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam adalah pada usaha yang lebih berat dalam mempelajari dan menekuninya, yang menyebabkan orang-orang menjadi tidak tertarik untuk menjalaninya. Kelemahan lainnya adalah kurangnya variasi dalam keilmuan gaib mereka dibandingkan yang dipelajari dalam ilmu gaib dan ilmu khodam, karena tujuan keilmuan mereka memang bukan untuk keilmuan gaib / khodam, tetapi untuk penghayatan kebatinan dan spiritual, atau untuk menjadi pengganda kekuatan kesaktian kanuragan.

Kelebihan utama ilmu yang murni sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam terhadap ilmu kebatinan dan spiritual adalah pada usaha yang lebih ringan dalam mempelajari dan menekuninya, yang menyebabkan orang-orang menjadi lebih tertarik untuk menjalaninya. Kelebihan lainnya adalah pada banyaknya variasi dalam keilmuan gaib (banyaknya variasi amalan dan mantra) dan hasilnya bisa langsung dipraktekkan dan dipertunjukkan, karena tujuan mereka berilmu memang untuk keberhasilan menguasai dan mempraktekkan keilmuan gaib / khodam.
Sedangkan kelemahan utama ilmu gaib dan ilmu khodam terhadap ilmu kebatinan dan spiritual terutama adalah pada kekuatan gaib ilmunya yang jauh lebih rendah (pada ilmu yang sejenis). Orang lebih suka mempelajari ilmu-ilmu kebatinan secara tersendiri, yang kemudian mewujud menjadi ilmu gaib dan ilmu khodam, yang seringkali tidak dilandasi dengan kekuatan kebatinan, karena tidak didasari dengan olah kebatinan, hanya menghapalkan dan mewirid mantra / amalan ilmu gaib dan mantra / amalan ilmu khodam saja.

Walaupun variasi ilmunya banyak, khodamnya banyak dan ilmunya berlapis-lapis, tetapi karena kekuatan gaibnya lebih rendah, biasanya praktek keilmuan mereka dapat dengan mudah dilunturkan keampuhannya (dan seringkali tidak dapat digunakan untuk menyerang orang-orang kebatinan dan spiritual).

Masing-masing jenis keilmuan mempunyai kelebihan dan kelemahan sendiri-sendiri. Segala bentuk keilmuan kebatinan maupun gaib akan sangat bergantung pada sumber kekuatan ilmunya dan perbendaharaan jenis ilmu. Untuk dapat menguasai suatu keilmuan secara sempurna dengan daya kekuatan yang tinggi seseorang juga harus mengenal sumber kekuatan keilmuannya, meningkatkan kekuatan ilmunya dan melengkapi kekurangannya.

Kemampuan untuk mengsugesti batin / sukma, kemampuan untuk bersugesti pada amalan gaib dan mantra, dan kemampuan mengsugesti kegaiban khodamnya adalah hal-hal pokok yang harus dikuasai dalam semua keilmuan batin / gaib. Tetapi untuk meningkatkan kekuatan keilmuannya jangan hanya berfokus pada praktek sugesti amalan gaib saja, sumber kekuatan ilmunya harus juga diketahui dan harus ditingkatkan kualitasnya supaya kekuatan keilmuannya menjadi tinggi.

Orang-orang yang menekuni ilmu gaib atau ilmu batin yang kegaibannya berdasarkan pada kekuatan batin / sukma (kebatinan dan spiritual), untuk meningkatkan kekuatan ilmunya, orang tersebut harus meningkatkan kekuatan batin / sukmanya dan penghayatan pada ilmunya (supaya ketika disugestikan untuk keilmuan tertentu, kekuatan ilmunya tinggi), dan menambah perbendaharaan jenis-jenis keilmuan gaib (menambah pengetahuan pada jenis-jenis ilmu dan amalan ilmu).

Orang-orang yang menekuni ilmu gaib atau ilmu batin yang kegaibannya berdasarkan pada kekuatan roh pancer dan sedulur papat, harus meningkatkan kekuatan dan ketajaman batin / sukma dan meningkatkan penyatuannya dengan kekuatan roh sedulur papatnya, supaya ketika disugestikan untuk keilmuan tertentu, kekuatan ilmunya tinggi.

Orang-orang yang menekuni ilmu gaib yang kegaibannya berdasarkan pada kekuatan sugesti amalan gaib atau mantra, harus meningkatkan kekuatan sugestinya ( / konsentrasi), meningkatkan kekuatan kebatinannya, atau mencari mantra / amalan ilmu gaib lain yang lebih tinggi kadar kekuatannya.

Orang-orang yang menekuni ilmu gaib yang kegaibannya berdasarkan pada kekuatan khodam ilmu, harus meningkatkan kekuatan khodamnya (atau mencari sosok gaib lain yang lebih tinggi kekuatan gaibnya) dan meningkatkan kemampuannya mengsugesti khodam ilmunya, atau mencari mantra / amalan gaib yang lebih tinggi kadar kekuatannya, supaya ketika disugestikan untuk keilmuan gaib tertentu, kekuatan ilmunya tinggi.